Kamis, 21 Oktober 2010

Sripsi Ku


PENERAPAN METODE BELAJAR AKTIF TIPE GROUP TO GROUP EXCHANGE (GGE) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA
KELAS VIII2 SMP NEGERI 4
KUANTAN HILIR


SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan Matematika Pada
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan




 



OLEH
HARJITO MURIEL
NPM: 06641500


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2010
LEMBARAN PENGESAHAN SKRIPSI
JUDUL
PENERAPAN METODE BELAJAR AKTIF TIPE GROUP TO GROUP EXCHANGE (GGE) UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA
KELAS  SMP NEGERI 4
KUANTAN HILIR


Dipersiapkan dan disusun oleh
Nama                           :   Harjito Muriel
NPM                           :   066410500
Jurusan/Prodi              :   PMIPA/Pendidikan Matematika

Tim Pembimbing
Pembimbing I                                                         Pembimbing II

Hj.Zetriuslita, S.Pd, M. Si                                      Dra. Mefa Indriati, M.Pd
Mengetahui,
Ketua Program Studi



Hj. Zetriuslita, S.Pd, M.Si
Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat guna memperoleh
gelar sarjana pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Islam Riau
Tanggal : 28 September 2010
Pembantu Dekan I


Zakir Has, S.H, M.Pd
SKRIPSI
PENERAPAN METODE BELAJAR AKTIF TIPE GROUP TO GROUP EXCHANGE (GGE) UNTUK MENINGKATKAN
 HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA
KELAS  SMP NEGERI 4
KUANTAN HILIR

Dipersiapkan dan disusun oleh:
Nama                           :   Harjito Muriel
NPM                           :   066410500
Jurusan/Prodi              :   PMIPA/Pendidikan Matematika

Telah dipertahankan didepan Tim Penguji
Pada tanggal: 28 September 2010

Susunan Tim Penguji

           Pembimbing I                                                                Anggota Tim                                     
          Hj. Zetriuslita, S.Pd, M.Si                              Prof. Drs. H. Mukhtar Rahman
                              
Pembimbing II                                                      Dr. Sri Rezeki, S.Pd, M.Si

Dra. Mefa Indriati, M.Pd                                            Drs. Alzaber, M.Si
Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat guna memperoleh
gelar sarjana pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Islam Riau
Tanggal: 28 September 2010
Pembantu Dekan I


Zakir Has, S.H, M.Pd
BERITA ACARA BIMBINGAN SKRIPSI
Nama               : Harjito Muriel
NPM               : 066410500
Program Studi : Pendidikan Matematika
Pembimbing I  : Hj.Zetriuslita, S.Pd, M.Si
Judul Skripsi   : Penerapan Metode Belajar Aktif Tipe Group To Group Exchange
                          (GGE) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa
                          Kelas  SMP Negeri 4 Kuantan Hilir
NO
Tanggal
Berita Acara Bimbingan
Paraf
1
Selasa,
16 -2 - 2010
·         Ikuti acuan penulisan Proposal
·         Lengkapi Silabus, RPP, LKS, dan Lembar Pengamatan aktivitas guru dan siswa

2
Sabtu,
27-2 - 2010
Acc Seminar

3
Senin,
5- 4 - 2010
Perbaiki RPP dan Pahami letak pelaksanaannya

4
Selasa,
6- 4- 2010
ACC Penelitian

5
Jumat,
13- 8- 2010
·         Perbaiki analisis data hasil belajar UH I dan II
·         Lampirkan dokumentasi penelitian
·         Lengkapi analisis data untuk setiap indikator

6
Sabtu,
2- 9- 2010
Acc Ujian Skripsi

                                                                                                           
    
                                                                                                     Mengetahui,
 Pembantu Dekan I


                                                                                               Zakir Has, S.H, M.Pd
BERITA ACARA BIMBINGAN SKRIPSI
Nama               : Harjito Muriel
NPM               : 066410500
Program Studi : Pendidikan Matematika
Pembimbing II: Dra. Mefa Indriati, M.Pd
Judul Skripsi   : Penerapan Metode Belajar Aktif Tipe Group To Group Exchange
                          (GGE) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa
                          Kelas  SMP Negeri 4 Kuantan Hilir

NO
Tanggal
Berita Acara Bimbingan
Paraf
1
Rabu,
17 -2 - 2010
·         Perbaiki pengetikan
·         Buat Silabus dan RPP
·         Perbaiki penulisan kata asing

2
Senin,
1- 3 - 2010
ACC Seminar


3
Rabu,
7- 4- 2010
·        Perbaiki Penulisan dan buat dokumentasi penelitian
·        ACC Penelitian

4
Rabu,
1- 9- 2010
·         Kutipan Dicantumkan
·         Perbaiki Analisis data hasil belajar UH I dan II

5
Jumat,
13- 8- 2010
Lengkapi Kata pengantar, daftar isi, daftar tabel dan daftar gambar.

6
Sabtu,
2- 9- 2010
Acc Ujian Skripsi

                                                                                               
                
    Mengetahui,
                                                                                                  Pembantu Dekan I

                                                                                                 Zakir Has, S.H, M.Pd

“Bukanlah suatu aib jika kamu gagal dalam suatu usaha, yang merupakan aib adalah jika kamu tidak bangkit dari kegagalan itu (Ali bin Abu Thalib)”

Kupersembahkan skripsi ini dengan sepenuh cinta karena Allah kepada:

Kedua orangtuaku atas pengorbanan tulus yang selama ini mereka curahkan.
Seluruh Keluarga Tercinta yang selalu menjadi sumber inspirasiku.
Kupersembahkan pula buat Hafsi Asmeriantika tersayang atas do’a dan motivasi penuh cinta yang selama ini ia pancarkan.


            Alhamdulillah, tugas berat ini selesai. Setelah sekian lama kaki ini melangkah menapaki roda perjuangannya, akhirnya skripsi ini dapat penulis rampungkan. Telah 4 tahun lamanya penulis mengarungi samudera perjuangan di kampus ini. Di tengah perjalanannya, acapkali bahtera perjuangan itu dihantam oleh badai dan deru ombak yang saling bersahutan. Mendebarkan. Sungguh menakutkan. Akan tetapi bejibun kenangan dan pelajaran yang didapat. Sungguh dunia kampus merupakan sebuah fase kehidupan yang sangat berharga.
            Tiada kata lain yang patut terucap melainkan ungkap rasa syukur yang teramat sangat kepada Allah Yang Maha Agung atas segala petunjuk dankemudahan langkah yang Ia curahkan selama ini, sehingga bahtera pertamapun telah sampai ke pelabuhan menuju tujuan terbaiknya. Penulis sangat bersyukur atas kemudahan, kesempatan dan kelapangan ilmu yang Allah swt.curahkan. Semoga Dia juga memberikan kesempatan bagi penulis untuk dapat mengenyam jenjang pendidikan lanjut melalui bahtera perjuangan berikutnya.Amiin.


Semoga karya ini dapat menjadi pemicu
dalam mengukir berjuta prestasi yang diridhoi-Nya, amin.



SURAT KETERANGAN

            Kami pembimbing skripsi dengan ini menerangkan bahwa mahasiswa yang tersebut dibawah ini :
Nama                 : Harjito Muriel
NPM                  : 066410500
Program Studi   : Pendidikan Matematika
            Telah selesai menyusun skripsi dengan judul “ Penerapan Metode Belajar Aktif Tipe Group to Group Exchange Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas  SMP Negeri 4 Kuantan Hilir” dan siap untuk diujikan.
Demikian surat keterangan ini dibuat untuk dapat dipergunakan sebagaimana perlunya.
                                                                                    Pekanbaru, 2 September 2010
        Pembimbing I                                                                     Pembimbing II

Hj. Zetriuslita, S.Pd, M.Pd                                                Dra. Mefa Indriati, M.Pd


SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1.      Skripsi/karya ilmiah ini merupakan hasil kerja saya sendiri, kecuali kutipan (baik langsung maupun tidak langsung), saya ambil dari berbagai sumber dan tersebutkan berbagai sumbernya.
2.      Skripsi/karya ilmiah ini tidak terdapat (kebohongan) pemalsuan seperti : buku, artikel, jurnal, pengolahan data dan pemalsuan tanda tangan Dosen/Ketua Program Studi/Dekan/Direktur di Universitas Islam Riau yang dibuktikan dengan keasliannya.
3.      Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya, dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, saya bersedia menerima sanksi yang sesuai dengan norma yang berlaku di perguruan ini.



Pekanbaru, 2 September 2010
   Yang membuat pernyataan,

               Harjito Muriel
             Nim : 066410500

KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Penerapan Metode Belajar Aktif Tipe Group to Group Exchange Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas Vii2 SMP Negeri 4 Kuantan Hilir”. Skripsi ini diajukan guna melengkapi syarat dalam mencapai gelar Sarjana Pendidikan Jenjang Pendidikan Strata Satu (S1) Program Studi Pendidikan Matematika pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau.  
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini sulit untuk dapat terwujud tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang memberikan kontribusinya baik material maupun spiritual khususnya kepada :
1.      Bapak Drs.Amir Amjad, M.Pd selaku Dekan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau.
2.      Bapak Zakir Has, S.H, M.Pd selaku pembantu Dekan I Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau.
3.      Ibu Dra. Tity Hastuti, M.Pd selaku pembantu Dekan II Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau.
4.      Bapak Drs. Muslim, S.kar, M.Sn selaku pembantu Dekan III Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau.
5.      Ibu Hj. Zetriuslita, S.Pd, M.Si selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika dan merangkap sebagai Dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis selama penyusunan maupun penulisan skripsi ini.
6.      Ibu Dra. Mefa Indriati, M.Pd selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan bantuan kepada penulis dengan penuh perhatian dan kesabaran selama penyusunan skripsi ini.
7.      Bapak/Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau yang telah memberikan saran-saran dan motivasi kepada penulis selama mengikuti perkuliahan. 
8.      Seluruh Dosen, Karyawan dan Staf Tata Usaha Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan   Universitas Islam Riau yang telah memberikan bantuan yang tak ternilai dalam penyelesaian studi penulis.
9.      Bapak, Ibu, dan Kakanda tercinta yang tanpa henti mengalirkan do’a untuk keselamatan dan keberhasilan penulis serta memberikan semangat baik spirituil, moril dan materil.

10.     Teman-teman seperjuangan kelas matematika VIIIb angkatan 2006 yang saling membantu, saling berbagi dan saling menolong satu sama lain demi keberhasilan bersama.
11.      Seluruh teman-teman Blogger, Facebook, Twitter dan Friendster  yang telah memberikan doa dan dukungan serta memotivasi penulis walau hanya lewat posting komen.
12.     Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu yang telah mendukung baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penulisan skripsi ini.

Semoga Allah SWT memberikan dan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya atas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Akhir kata, penulis berharap semoga penulisan skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak serta menambah wacana pemikiran bagi kita semua.


                                                                      Pekanbaru, 2 September 2010
                                                                                         Penulis,

                                                                                    Harjito Muriel
                                                                                  Nim: 066410500


DAFTAR ISI


PENGESAHAN SKRIPSI ..........................................................................           i
BERITA ACARA BIMBINGAN................................................................          ii
SURAT PERNYATAAN………................................................................          iii
PERSEMBAHAN…………........................................................................          iv
KATA PENGANTAR.................................................................................           v
DAFTAR ISI...............................................................................................        viii
DAFTAR TABEL ......................................................................................           x
DAFTAR GAMBAR...................................................................................          xi
DAFTAR LAMPIRAN...............................................................................         xii

BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah......................................................................         1
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................         5
1.3 Tujuan Penelitian ...............................................................................         5
1.4 Manfaat Penelitian .............................................................................         6

BAB II : LANDASAN TEORITIS
      2.1 Hasil Belajar Matematika...................................................................          7
      2.2 Metode Belajar Aktif Tipe Group to Group Exchange......................                      8
      2.3 Penerapan Metode Belajar Aktif Tipe Group to Group
            Exchange............................................................................................        12
      2.4 Hubungan Metode Belajar Aktif Tipe Group to Group
            Exchange Dengan Hasil Belajar..........................................................       13
      2.5 Hipotesis Tindakan..............................................................................       16

BAB III : METODE PENELITIAN
      3.1 Bentuk Penelitian ...............................................................................       18
      3.2 Subjek Penelitian.................................................................................       22
      3.3 Perangkat Pembelajaran......................................................................       22
      3.4 Instrumen Pengumpulan Data........................................................                        24
      3.5 Teknik Pengumpulan Data................................................................          25
      3.6 Teknik Analisis Data.........................................................................          26
            3.6.1  Analisis Data Aktivitas Guru Dan  Siswa.............................           26
            3.6.2  Keberhasilan Tindakan...........................................................          27

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
    4.1  Pelaksanaan Penelitian.....................................................................            29
           4.1.1  Tahap Persiapan.....................................................................            29
           4.1.2  Tahap Pelaksanaan Proses Pembelajaran..............................             30
                     4.1.2.1  Siklus Pertama.........................................................             30
                     4.1.2.2  Refleksi Siklus Pertama............................................            39
                     4.1.2.3  Siklus Kedua............................................................             41
                     4.1.2.4  Refleksi Siklus Kedua.............................................             47
    4.2  Analisis Hasil Tindakan..................................................................             47
           4.2.1  Aktivitas Guru dan Siswa................................................. …           47
           4.2.2  Analisis Ketercapaian KKM ................................................             50
           4.2.3  Keberhasilan Tindakan...........................................................           55
    4.3  Pembahasan Hasil Penelitian............................................................           57

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
    5.1  Kesimpulan........................................................................................          61
    5.2  Saran..................................................................................................          61

DAFTAR PUSTAKA................................................................................          63



           

DAFTAR TABEL

Tabel 1 :  Analisis Ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimum
                (KKM)..............................................................................................      50
Tabel 2 : Analisis Ketuntasan Belajar Matematika Siswa Setiap
               Indikator Pada UH I.........................................................................       51
Tabel 3 : Analisis Ketuntasan Belajar Matematika Siswa Setiap
               Indikator Pada UH II.......................................................................       52
Tabel 4 : Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Hasil Belajar Siswa .....................     55














DAFTAR GAMBAR


Gambar 1 : Tata letak Tempat Duduk Siswa Masing-masing
                   Kelompok .....................................................................................      13
Gambar 2 : Bagan Siklus PTK .......................................................................       19
Gambar 3 : Grafik Analisis Kriteria Ketuntasan Minimum............................       50
Gambar 4 : Perbandingan Hasil Belajar Siswa...............................................       56















DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A : Silabus dan Sistem Penilaian....................................................       64
Lampiran : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pertemuan 1...................       66
Lampiran : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pertemuan 2...................       72
Lampiran : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pertemuan 3...................       78
Lampiran : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pertemuan 4...................       84
Lampiran : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pertemuan 5...................       90
Lampiran : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pertemuan 6...................       96
Lampiran : Lembar Kerja Siswa Pertemuan 1 .........................................       102
Lampiran : Lembar Kerja Siswa Pertemuan 2 .........................................       106
Lampiran : Lembar Kerja Siswa Pertemuan 3 .........................................       112
Lampiran : Lembar Kerja Siswa Pertemuan 4 .........................................       116
Lampiran : Lembar Kerja Siswa Pertemuan 5 .........................................       120
Lampiran : Lembar Kerja Siswa Pertemuan 6 .........................................       124
Lampiran : Lembar Tugas Siswa Pertemuan 1 ........................................       127
Lampiran : Lembar Tugas Siswa Pertemuan 2 ........................................       128
Lampiran : Lembar Tugas Siswa Pertemuan 3 ........................................       129
Lampiran : Lembar Tugas Siswa Pertemuan 4 ........................................       130
Lampiran : Lembar Tugas Siswa Pertemuan 5 ........................................       131
Lampiran : Lembar Tugas Siswa Pertemuan 6 ........................................       132
Lampiran : Lembar Tugas Siswa Pertemuan 1 ........................................       127
Lampiran : Lembar Pengamatan Pertemuan 1...........................................      133
Lampiran : Lembar Pengamatan Pertemuan 2...........................................      137
Lampiran : Lembar Pengamatan Pertemuan 3...........................................      141
Lampiran : Lembar Pengamatan Pertemuan 4...........................................      145
Lampiran : Lembar Pengamatan Pertemuan 5...........................................      149
Lampiran : Lembar Pengamatan Pertemuan 6...........................................      153
Lampiran : Kisi – kisi Soal Ulangan Harian 1...........................................      157
Lampiran : Kisi – kisi Soal Ulangan Harian 2...........................................      158
Lampiran :  Soal Ulangan Harian 1............................................................      159
Lampiran :  Soal Ulangan Harian 2..........................................................       161
Lampiran : Alternatif Jawaban  Soal Ulangan Harian 1............................      163
Lampiran : Alternatif Jawaban  Soal Ulangan Harian 2............................      166
Lampiran : Pembentukan Kelompok Belajar Siswa .................................       170
Lampiran : Kelompok Belajar Siswa ........................................................       171
Lampiran : Skor Dasar Siswa ....................................................................       172
Lampiran : Nilai siswa Perindikator  Pada Ulangan Harian 1 ..................       173
Lampiran : Nilai siswa Perindikator  Pada Ulangan Harian 2 ..................       174
Lampiran K: Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa  ...........................       175
Lampiran L :Hasil Belajar Siswa ,................................................................       176
Lampiran M: Alat Peraga..............................................................................       177
Lampiran N: Dokumentasi Penelitian...........................................................       178








BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. 
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki keberdayaan dan kecerdasan emosional yang tinggi serta menguasai berbagai macam keterampilan. Kecerdasan dan Keterampilan tersebut akan lebih maksimal bila peserta didik menguasai beberapa bidang seperti matematika. Matematika merupakan ilmu yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Matematika membekali peserta didik untuk mempunyai kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis, serta kemampuan bekerja sama (Depdiknas, 2006: 345).
Tujuan pembelajaran matematika adalah agar peserta didik memiliki kemampuan: (1) memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah; (2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; (3) memecahkan masalah melalui kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; (4) mengkomunikasikan gagasan dengan symbol, table, diagram, atau media lain untuk menjelaskan keadaan atau masalah; (5) memiliki sifat menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah oleh Depdiknas (2006:346).
 Lingkungan sekolah merupakan salah satu tempat memperoleh tujuan dari pembelajaran matematika melalui proses belajar mengajar yang baik. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian kegiatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung secara edukatif. Dalam proses pembelajaran guru diharapkan untuk lebih kreatif dalam memilih dan menyesuaikan strategi pembelajaran yang tepat. Strategi yang dimaksud adalah strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas siswa dan mengembangkan kemampuan nalar dengan cara meningkatkan kreatifitas dan berfikir kritis sesuai dengan perkembangan kognitif, efektif, dan psikomotor siswa.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru bidang studi matematika yang mengajar pada kelas  SMP Negeri 4 Kuantan Hilir, diperoleh informasi bahwa hasil belajar siswa dikategorikan masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes belajar siswa semester ganjil tahun ajaran 2009-2010 pada materi pokok sistem persamaan linier dua variabel belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 60, dimana siswa yang mencapai KKM hanya 14 siswa dari 31 siswa yang mencapai KKM, yang apabila dipersentasekan yaitu hanya 45% yang mencapai KKM. Ini berarti masih ada 17 siswa atau 55% lagi siswa yang belum mencapai KKM.
Pada saat proses pembelajaran berlangsung, peneliti mengamati kegiatan guru mulai dari membuka pembelajaran dengan kegiatan absensi dan menanyakan materi sebelumnya. Selanjutnya guru menyajikan materi pelajaran dan siswa mendengarkan guru menyampaikan materi pelajaran, kemudian guru memberikan contoh soal, memberikan latihan dan membahas soal latihan yang telah dikerjakan oleh siswa. Pada akhir pelajaran guru menutup pelajaran dan memberikan pekerjaan rumah. Penyebab rendahnya hasil belajar matematika siswa tersebut karena selama proses pembelajaran berlangsung  guru hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas sehingga pembelajaran yang terjadi hanya berpusat pada guru. Komunikasi juga hanya berlangsung satu arah yaitu guru menjelaskan materi sedangkan siswa hanya mendengar dan mencatat selama proses pembelajaran. Pada waktu mengajar guru belum optimal dalam melibatkan siswa secara aktif, dengan kata lain guru lebih mendominasi dalam penyajian materi. Pembelajaran yang berpusat pada guru inilah yang membuat siswa menjadi pasif dan kurang berpartisipasi dalam pembelajaran.
Menurut Djamarah dan Zain (2002:141) keberhasilan belajar ditentukan oleh proses pembelajaran yang dilakukan siswa dan guru melalui model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam aktivitas belajar. Selanjutnya Slameto (2003:92) juga mengatakan bahwa proses pembelajaran yang efektif dapat dicapai bila guru menggunakan strategi pembelajaran yang baik. Mengingat pentingnya penguasaan matematika oleh siswa maka guru perlu berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran dengan melakukan usaha perbaikan dalam proses pembelajaran. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan metode belajar aktif, yang bertujuan untuk mendorong siswa mengontruksikan pengetahuannya sendiri dan dapat mengkomunikasikan gagasannya.
Menurut Silberman (2006:28) metode belajar aktif dapat mengakomodir segala kebutuhan siswa (visual, auditori, dan kinestik), karena siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Silberman mengemukakan dalam bukunya ada 101 tipe belajar aktif, salah satunya adalah tipe Group to Group Exchange (GGE)/ pertukaran kelompok dengan kelompok. Pembelajaran dengan menggunakan metode belajar aktif tipe GGE ini membuat siswa bisa berdialog dan berinteraksi dengan sesama siswa secara terbuka dan interaktif dibawah bimbingan guru sebagai fasilitator dan mediator sehingga siswa terpacu untuk menguasai bahan ajar. Metode belajar aktif tipe GGE membuat siswa lebih berkonsentrasi dalam pembelajaran dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk menguasai bahan ajar karena setelah kegiatan diskusi kelompok berakhir, siswa akan mempresentsikan hasil diskusinya didepan kelas. Selain itu metode belajar aktif tipe GGE juga dapat meningkatkan komunikasi dan interaksi sesama siswa, karena siswa berkesempatan untuk membagi pengetahuan yang diperolehnya.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti melakukan penelitian dengan menerapakan metode belajar aktif tipe GGE untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas SMP Negeri 4 Kuantan Hilir semester II tahun pelajaran 2009/2010 pada materi pokok kubus dan balok.

1.2  Rumusan Masalah.
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah: Apakah penerapan metode belajar aktif tipe GGE dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas   SMP Negeri 4 Kuantan Hilir semester II tahun 2009/2010 pada materi pokok kubus dan balok ?

1.3  Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas  SMP Negeri 4 Kuantan Hilir semester II tahun pelajaran 2009/2010 pada materi pokok kubus dan balok melalui penerapan metode belajar aktif tipe GGE.


1.4  Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a)   Bagi siswa, penerapan metode belajar aktif tipe GGE ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas SMP Negeri 4 Kuantan Hilir semester II tahun pelajaran 2009/2010, melatih siswa untuk dapat bekerja sama dan berani mengeluarkan pendapat serta mampu membagi pengetahuan yang mereka peroleh.
b)   Bagi guru, metode belajar aktif tipe GGE ini dapat dijadikan sebagai salah satu metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika di SMP Negeri  4 Kuantan Hilir.
c)   Bagi sekolah, tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini dapat dijadikan salah satu bahan masukan dalam rangka meningkatkan hasil belajar matemetika di SMP Negeri 4 Kuantan Hilir.
d)  Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan memperluas wawasan peneliti tentang metode belajar aktif tipe GGE untuk meningkatkan hasil belajar matematika.






BAB II 
LANDASAN TEORITIS

2.1  Hasil Belajar Matematika
Menurut Slameto (2003:2) belajar adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.Sardiman (2009:2) juga menyatakan bahwa belajar diartikan sebagai suatu perubahan tingkah laku karena hasil dari pengalaman yang diperoleh.Sedangkan hasil belajar menurut Dimyati (2002:200) adalah nilai belajar siswa melalui kegiatan dan pengukuran.Selanjutnya menurut Sudjana (1999:22) hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya.
Hasil belajar dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar diri siswa. Faktor dari dalam diri siswa berupa kemampuan yang dimiliki siswa, sedangkan faktor dari luar diri siswa diantaranya adalah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar yang dilakukan. Secara garis besar hasil belajar diklasifikasikan menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif, ranah efektif  dan ranah psikomotorik. Sardiman (2009:28) juga mengatakan hasil belajar meliputi (1) ilmu dan pengetahuan, konsep atau fakta (kognitif); (2) personal, kepribadian atau sikap (efektif); (3) kelakuan, keterampilan, atau penampilan (psikomotorik).
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kompetensi dan kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar yang dinyatakan dengan skor yang diperoleh dari hasil tes yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Adapun hasil belajar matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai atau skor yang diperoleh siswa setelah dilakukan tes pada materi pokok kubus dan balok dengan menerapkan metode belajar aktif tipe GGE.

2.2  Metode Belajar Aktif Tipe Group to Group Exchange (GGE)
Belajar dikatakan aktif apabila dalam proses pembelajaran terdapat adanya hubungan timbal balik antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa lainnya. Hubungan tersebut berupa komunikasi antara siswa dan guru melalui proses tanya jawab dalam proses pembelajaran. Apabila belajar aktif diterapkan maka suasana didalam proses pembelajaran akan terasa nyaman dan semua siswa akan lebih termotivasi dalam menerima materi yang diajarkan. Agar belajar menjadi aktif, siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah.
Belajar aktif sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal ketika siswa pasif, atau hanya menerima dari guru, ada kecendrungan siswa untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan. Belajar aktif adalah salah satu cara untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak, karena salah satu faktor yang menyebabkan informasi cepat dilupakan adalah faktor kelemahan otak manusia itu sendiri. Dengan belajar aktif siswa diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan ini biasanya siswa akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan. Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, siswa perlu mendengarnya, melihatnya, mengajukan pertanyaan, dan membahasnya dengan orang lain. Merujuk kepada pendapat konfisius yang dimodifikasi oleh Silberman (2006 : 23) tentang paham belajar aktif yaitu:
“Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan kerjakan, saya dapat      pengetahuan. Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya menguasainya”.
Dalam proses pembelajaran, mendengar dan melihat saja tidak cukup untuk belajar sesuatu. Jika siswa bisa melakukan sesuatu dengan informasi yang diperoleh, siswa akan memperoleh umpan balik seberapa bagus pemahamannya. Alur proses belajar tidak harus berasal dari guru menuju siswa, siswa juga bisa saling mengajar sesama siswa lainnya. Pengajaran sesama siswa dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari sesuatu dengan baik dan sekaligus menjadi narasumber bagi satu sama lain oleh (Silberman 2006:177). Dalam proses pembelajaran adakalanya seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh teman-temannya karena mereka mempunyai usia yang hampir sama.
Salah satu metode belajar aktif yang termasuk dalam bagian pengajaran sesama siswa adalah Group to Group Exchange (GGE).GGE adalah salah satu metode belajar aktif yang menuntut siswa untuk berfikir tentang apa yang dipelajari, berkesempatan untuk berdiskusi dengan teman, bertanya dan membagi pengetahuan yang diperoleh kepada yang lainnya. Metode belajar aktif tipe GGE memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertindak sebagai guru bagi siswa lainnya. Sebagian pakar percaya bahwa sebuah mata pelajaran baru benar-benar dikuasai ketika si pembelajar mampu mengajarkannya kepada orang lain.
Silberman (2006:178) mengatakan prosedur pembelajaran dengan menggunakan tipe GGE adalah sebagai berikut :
1.      Pilihlah topik yang dapat membuat siswa saling bertukar informasi.
2.      Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan banyak tugas. Berikan waktu yang cukup kepada tiap kelompok untuk menyiapkan cara mereka menyajikan topik yang ditugaskan kepada mereka.
3.      Bila tahap persiapan telah selesai, perintahkan kelompok untuk memilih juru bicara. Undang tiap juru bicara untuk memberikan presentasi kepada kelompok lain.
4.      Setelah presentasi singkat, doronglah siswa untuk mengajukan pertanyaan tentang pendapat presenter atau menawarkan pendapat mereka sendiri. Beri kesempatan anggota lain dari kelompok si juru bicara untuk memberikan tanggapan.
5.      Lanjutkan presentasi lain agar tiap kelompok berkesempatan memberikan informasi dan menjawab serta menanggapi pertanyaan dan komentar audiens.
Pembelajaran dengan menggunakan tipe GGE dapat dilakukan variasi diantaranya sebagai berikut :
1.      Perintahkan kelompok untuk melakukan pembahasan menyeluruh sebelum melakukan presentasi.
2.      Menggunakan format diskusi panel untuk tiap presentasi kelompok (diskusi panel merupakan metode untuk mendapatkan partisipasi kapan pun).
Menurut Zaini, dkk (2008:62) langkah-langkah metode pembelajaran aktif tipe GGE adalah sebagai berikut :
1.      Bagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil sebanyak segmen materi yang akan anda sampaikan.
2.      Masing-masing kelompok kecil diberi tugas untuk mempelajari satu topik materi, kemudian mengajarkannya kepada kelompok lain.
3.      Minta setiap kelompok menyiapkan strategi untuk menyampaikan materi kepada teman-teman sekelas. Sarankan kepada mereka untuk tidak menggunakan metode ceramah atau seperti membaca laporan.
4.      Buat beberapa saran seperti :
a.       Menggunakan alat bantu visual
b.      Menyiapkan media pengajaran yang diperlukan.
c.       Menggunakan contoh-contoh yang relevan
d.      Melibatkan siswa (kawan) dalam proses pembelajaran melalui diskusi, permainan, kuis, dll.
e.       Memberi kesempatan pada yang lain untuk bertanya.
5.      Beri mereka waktu yang cukup untuk persiapan, baik didalam maupun diluar kelas.
6.      Setiap kelompok menyampaikan materi sesuai tugas yang telah  diberikan.
7.      Setelah semua kelompok melaksanakan tugas, beri kesimpulan dan klarifikasi sekiranya ada yang perlu diluruskan dari pemahaman siswa.

2.3  Penerapan Metode Belajar Aktif Tipe Group to Group Exchange (GGE).
Kegiatan belajar aktif tidak berlangsung tanpa adanya partisipasi siswa.Untuk mewujudkan maksimalnya partisipasi siswa perlu dibentuk kerja kelompok yang merupakan bagian penting dari kegiatan belajar aktif.Prosedur pelaksanaan dari metode belajar aktif tipe GGE dapat dirancang oleh guru dengan teknik umum melalui dua tahap.
A.    Tahap persiapan
Pada tahap ini guru merencanakan keseluruhan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan metode pembelajaran yang digunakan.Dalam penerapan pembelajaran metode belajar aktif tipe GGE, kerja kelompok harus disesuaikan dengan kondisi kelas dan jumlah siswa.Berdasarkan data yang diperoleh dari SMP Negeri 4 Kuantan Hilir bahwa siswa kelas  berjumlah 31 orang. Dari data tersebut maka dapat dibentuk tata letak untuk menyusun masing-masing kelompok sebagai berikut :





 

          



















 






Gambar 1. Tata Letak Tempat Duduk Siswa masing-masing Kelompok
B.     Tahap Pelaksanaan.
Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Silberman (2006:178) dan Zaini, dkk (2008:62) penerapan pembelajaran metode belajar aktif tipe GGE yang telah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan  kelas di SMP Negeri  4 Kuantan Hilir adalah sebagai berikut.
1.      Pendahuluan
a.       Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
b.      Guru menyampaikan apersepsi dan membangkitkan motivasi siswa.
c.       Guru menjelaskan metode pembelajaran yang akan digunakan.
2.      Kegiatan inti.
a.       Siswa diminta untuk duduk dalam kelompok masing-masing, setiap kelompok terdiri dari 5-6 orang. Kelompok dibentuk berdasarkan susunan yang telah ditentukan pada tahap persiapan. Bentuk kelompok heterogen dari segi jenis kelamin dan akademis yaitu terdiri dari siswa yang berkemampuan tingi,sedang dan kurang.
b.      Guru memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan Lembar Tugas Siswa (LTS) pada masing-masing siswa untuk dikerjakan dan didiskusikan dalam kelompoknya. LKS yang diberikan berisi segmen materi yang akan didiskusikan. Segmen materi balok akan dibahas oleh kelompok balok, yaitu kelompok 1,2 dan 3. Sedangkan segmen materi kubus akan dibahas oleh kelompok kubus, yaitu kelompok 4,5 dan 6. Setiap kelompok akan diberikan LKS yang mencakup semua materi yang didiskusikan oleh kelompok lain sebagai dasar untuk membangun pengetahuan siswa pada tahap presentasi kelompok.
c.       Pada kegiatan diskusi guru meminta masing-masing perwakilan kelompok untuk datang kekelompok lain, kemudian mengajarkan materinya kepada kelompok tersebut. Kelompok yang membahas segmen materi kubus menyampaikan materinya ke kelompok segmen materi balok bersamaan dengan kelompok yang membahas segmen materi balok ke kelompok segmen materi kubus.
d.      Setelah waktu diskusi habis, guru meminta juru bicara kelompok yang terpilih untuk mempresentasikan hasil diskusinya didepan kelas. Juru bicara kelompok dipilih oleh masing-masing kelompok.
e.       Kelompok lain diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan dan mengajukan pertanyaan tentang materi yang sedang disajikan. Berikan kesempatan anggota lain dari kelompok penyaji untuk memberikan tanggapan.
f.       Guru meminta juru bicara dari kelompok yang membahas materi berbeda untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.
g.      Setelah presentasi selesai, siswa mengerjakan Lembar Tugas Siswa (LTS) yang diberikan oleh guru.
h.      Guru bersama-sama dengan siswa membahas LTS yang telah dikerjakan siswa.
3.      Kegiatan Penutup
a.       Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pelajaran yang telah dipelajari.
b.      Guru memberikan pekerjaan rumah.
2.4  Hubungan Metode Belajar Aktif Tipe Group to Group Exchange dengan  Hasil Belajar.
Belajar aktif adalah salah satu metode pembelajaran yang banyak melibatkan siswa.Siswa dipandang sebagai subjek pembelajaran yang harus banyak berperan dalam aktivitas pembelajaran.Penerapan metode balajar aktif tipe GGE merupakan alternatif untuk mengaktifkan siswa dalam pembelajaran.Dengan metode ini siswa dapat mendengarkan dengan aktif, menjelaskan kepada teman, bertanya kepada guru, berdiskusi dengan siswa lain, menanggapi pertanyaan dan berargumentasi.Semakin banyak aktivitas pembelajaran yang dilakukan, pemahaman siswa semakin bertambah, Jika pemahaman siswa bertambah maka hasil belajar akan meningkat. Selain itu, bila siswa dapat menjelaskan satu topik dengan baik dan jelas, maka dapat dikatakan bahwa siswa tersebut mahir dalam topik tersebut.Jika siswa sudah mencapai tahap ini maka siswa dapat mengerjakan soal-soal tes belajar dengan baik, dengan demikian hasil belajar siswa meningkat. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode belajar aktif tipe GGE dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas  SMP Negeri 4 Kuantan Hilir tahun pelajaran 2009/2010 pada materi pokok kubus dan balok.
2.5  Hipotesis Tindakan.
Bila dicermati dari ciri-ciri dan tahap metode belajar aktif tipe GGE, metode ini memiliki beberapa faktor yang mendukung dalam pencapaian hasil belajar yang baik.Pada tahap awal, guru mengorganisir siswa dalam kelompok belajar dan siswa mengerjakan tugas yang diberikan bersama-sama dalam kelompoknya masing-masing. Dalam kelompok, akan terjadi interaksi sosial diantara siswa, adanya dialog, saling mengemukakan pendapat atau ide sehingga akan meningkatkan kemampuan berfikir siswa. Dengan menempatkan siswa dalam kelompok dan memberi tugas yang menuntut mereka untuk bergantung sama lain dalam mengerjakannya sehingga siswa menjadi lebih terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Ketika siswa belajar dengan aktif, siswa akan mendominasi aktivitas pembelajaran, dengan ini siswa diajak turut serta dalam semua proses pembelajaran sehingga siswa akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan. Pada tahap presentasi dan tahap mengajukan pertanyaan atau tanggapan, seluruh siswa dilibatkan bersama-sama. Dalam kegiatan mempresentasikan materi yang berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lain, akan terjadi diskusi kelas dan kerjasama antar individu untuk memperoleh penyelesaian atas suatu masalah yang diberikan atau pertanyaan yang diajukan. Menurut Silberman (2006:26), otak akan melakukan tugas proses belajar yang lebih baik jika siswa diminta untuk mengajukan pertanyaan. Pemberian tugas yang berbeda kepada siswa akan mendorong mereka untuk tidak hanya berdiskusi bersama namun juga mengajarkan satu sama lain. Apa yang didiskusikan dan apa yang diajarkan siswa kepada teman-temannya memungkinkan mereka untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran yang pada akhirnya akan dapat menigkatkan hasil belajar siswa Silberman (2006:31).
Dari uraian di atas, terlihat bahwa ciri dan tahapan metode belajar aktif tipe GGE dapat menjadi faktor yang mendukung hasil belajar yang baik. Ketika kegiatan belajar bersifat aktif, siswa akan membutuhkan informasi untuk memecahkan masalah, siswa akan bertanya dan berdiskusi dengan temannya, siswa akan berupaya mempelajari tugas dalam kelompoknya dan mengajarkannya satu sama lain sehingga siswa akan terlibat aktif dalam semua proses pembelajaran yang pada akhirnya akan meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa. Berdasarkan uraian diatas, peneliti dapat merumuskan hipotesis tindakan dalam penelitian ini. Rumusan hipotesis pada penelitian ini adalah dengan menerapkan metode belajar aktif tipe GGE dalam proses pembelajaran matematika dapat menigkatkan hasil belajar matematika siswa kelas  SMP Negeri 4 Kuantan Hilir semester genap tahun ajaran 2009-2010 pada materi pokok kubus dan balok.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, peneliti dan guru berkolaborasi dalam penelitian. Menurut Arikunto,S dkk (2008:2), penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki/meningkatkan hasil belajar siswa. Wardani,dkk(2002:4) meyatakan penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru didalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa meningkat. Arikunto (2006:16) menyatakan bahwa secara garis besar penelitian tindakan kelas dilaksanakan melalui empat tahap yang dilalui yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Model siklus penelitian tindakan kelas dapat digambarkan sebagai  berikut :




























































 




          






PENGAMATAN
 


Text Box: Apabila permasalahan belum terselesaikan, maka dilanjutkan ke siklus berikutnya
 

                                            
Gambar 2. Bagan Siklus PTK menurut Arikunto, (2006:16)
Untuk menggali permasalahan yang terdapat di kelas  SMP Negeri 4 Kuantan Hilir, penelitian melakukan refleksi awal. Dari refleksi awal peneliti memperoleh gambaran yang kompleks tentang permasalahan yang terjadi dan merumuskan tindakan yang akan dilakukan.Tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penerapan metode belajar aktif tipe GGE pada materi pokok kubus dan balok untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas  SMP Negeri 4 Kuantan Hilir. Pelaksanaan tindakan dilakukan oleh peneliti dan guru bidang studi matematika sebagai pengamat selama proses pembelajaran berlangsung.Setiap siklus dalam penelitian ini melalui empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Masing-masing tahap pada setiap siklus dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut :
a.       Perencanaan
Perencanaan tindakan dilakukan dengan menyusun silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), membuat Lembar Kerja Siswa (LKS), Lembar Tugas Siswa (LTS), menyusun kisi-kisi tes hasil belajar dan tes hasil belajar, serta mempersiapkan lembar pengamatan.
b.      Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan dilakukan pada proses pembelajaran secara terstruktur berpandu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Siswa mendiskusikan LKS dan LTS dalam kelompok heterogen dengan menerapkan metode belajar aktif tipe GGE.
c.       Pengamatan (Observasi)
Dalam tahap ini yang bertindak sebagai pengamat utama terhadap proses pembelajaran adalah guru bidang studi matematika yang mengajar kelas  SMP Negeri 4 Kuantan Hilir. Pelaksanaan observasi dilakukan sejalan dengan pelaksanaan tindakan. Guru melakukan pengamatan berpedoman kepada lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa. Lembar pengamatan yang peneliti gunakan adalah lembar pengamatan terbuka dan terfokus. Peneliti menyampaikan kepada guru sebagai pengamat hal-hal apa saja yang harus diamati selama proses pembelajaran berlangsung.Peneliti memberikan RPP kepada pengamat sebagai pedoman dalam melakukan pengamatan.Aktivitas guru dan siswa yang diamati antara lain menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, membangkitkan motivasi siswa, menjelaskan metode pembelajaran yang dilakukaan, mengorganisasikan siswa dalam kelompok, membimbing dan mengawasi siswa dalam berdiskusi dalam menyelesaikan LKS, aktivitas presentasi kelompok, pemberian kesempatan kepada kelompok untuk memberikan tanggapan dan pertanyaan kepada kelompok penyaji, membimbing dan mengawasi siswa dalam berdiskusi menyelesaikan LTS, membahas LTS, dan menyimpulkan materi yang baru dipelajari. Semua data hasil pengamatan diperoleh dari pengamat secara cermat, untuk selanjutnya dapat dipergunakan sebagai langkah untuk merencanakan tindakan baru pada perencanaan pembelajaran.
d.      Refleksi
Refleksi dilakukan setelah tindakan berakhir yang merupakan perenungan bagi peneliti atas dampak dari proses pembelajaran yang dilakukan. Hasil dari refleksi dijadikan sebagai langkah untuk merencanakan tindakan baru pada pelaksanaan pembelajaran selanjutnya.Tahap ini bertujuan untuk mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan. Kelemahan dan kekurangan pada siklus I akan diperbaiki pada siklus II.



3.2 Subjek Penelitian
Penelitian dilakukan di SMP Negri 4 Kuantan Hilir tahun ajaran 2009/2010. Subjek penelitian ini adalah  siswa kelas  SMP Negri 4 Kuantan Hilir dengan jumlah siswa sebanyak 31 orang, 13 orang laki-laki dan 18 orang perempuan. Siswa dikelas tersebut heterogen dilihat dari kemampuan akademis dan jenis kelamin.

3.3 Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.       Silabus
Silabus merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas dan penilaian hasil belajar. Format sistematika silabus disusun berdasarkan prinsip berorientasi pada pencapaian standar kompetensi. Berdasarkan prinsip tersebut maka sistematika penyajian isi silabus matematika dimulai dengan identitas sekolah, standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, pengalaman belajar, indikator, penilaian yang meliputi jenis tagihan, bentuk instrumen dan contoh instrumen, alokasi waktu, dan sumber bahan / alat. Pembuatan silabus ini merupakan penjabaran dari kompetensi dasar dan berguna sebagai pedoman perencanaan perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

b.      Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi. Dan kemudian dijabarkan dalam silabus yang bertujuan agar peneliti mempunyai pedoman dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Dalam penelitian ini Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disusun untuk enam kali pertemuan. Setiap RPP disusun secara sistematis  yang memuat standar kompetensi; kompetensi dasar; indikator; alokasi waktu; tujuan pembelajaran; materi pembelajaran; metode pembelajaran; kegiatan pembelajaran yang memuat kegiatan awal, inti dan akhir yang mengacu pada penerapan metode belajar aktif tipe GGE; alat dan sumber belajar; dan penilaian. RPP disusun untuk mengimplementasikan program pembelajaran yang sudah tertuang dalam silabus. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini berfungsi sebagai acuan peneliti dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bertujuan agar proses pembelajaran berjalan sebagai mana mestinya sesuai silabus yang telah disusun.
c.       Lembar Kerja Siswa (LKS)
Lembar Kerja Siswa merupakan langkah kerja dalam mengkonstruksi konsep dengan prosedur  yang dibuat sedemikian rupa sehingga siswa mampu menyelesaikan suatu permasalahan secara individu maupun kelompok. Pembuatan LKS bertujuan  mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran, membantu siswa menambah informasi dengan materi yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis sehingga siswa dapat mengembangkan dan membangun pemahamannnya terhadap materi.
d.      Lembar Tugas Siswa (LTS)
LTS berisi soal-soal yang harus dikerjakan oleh siswa untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran yang akan dibahas.

3.4 Instrument Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data tentang aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran dan data tentang hasil belajar matematika siswa setelah proses pembelajaran. Data tentang aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran dikumpulkan dengan menggunakan lembar pengamatan. Data tentang hasil belajar matematika siswa setelah proses pembelajaran dikumpulkan dengan menggunakan tes hasil belajar yang mencakup materi pokok kubus dan balok.
a.       Lembar pengamatan.
Lembar pengamatan hendaknya dapat menampung semua kegiatan real yang terjadi dalam kelas.Oleh sebab itu lembar pengamatan dapat dikembangkan sesuai dengan keperluan pengamatan.Lembar pengamatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar pengamatan terbuka dan terfokus. Data tentang aktivitas dan interaksi siswa dan guru selama proses pembelajaran yang mengacu pada langkah-langkah penerapan metode belajar aktif tipe GGE dikumpulkan dengan menggunakan lembar pengamatan yang telah disediakan.
b.      Tes hasil belajar.
Tes hasil belajar (ulangan harian) digunakan untuk menentukan ketercapaian kompetensi siswa dan keberhasilan tindakan. Tes disusun mengacu pada kisi-kisi tes hasil belajar ( lampiran F) yang terdiri dari ulangan harian I (lampiran ) dan ulangan harian II (lampiran ).Penskoran pada alternative jawaban (lampiran H) mengikuti ketentuan penskoran uraian isian.

3.5  Teknik Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan teknik observasi menggunakan lembar pengamatan terbuka dan terfokus. Pengamatan dilakukan terhadap aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran untuk setiap pertemuan dengan mengisi lembar pengamatan yang telah disediakan. Lembar pengamatan diisi berdasarkan aktivitas dari langkah-langkah metode belajar aktif tipe GGE yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan oleh guru bidang studi matematika kelas  SMP Negeri 4 Kuantan Hilir. Sebelum melaksanakan pengamatan, pengamat dan peneliti berkoordinasi mendiskusikan metode pembelajaran yang akan diterapkan peneliti, peneliti menjelaskan kepada pengamat hal-hal yang harus diamati selama proses pembelajaran berlangsung dan tempat duduk pengamat didalam kelas. Setelah melaksanakan pengamatan, pengamat dan peneliti mendiskusikan hasil pengamatan pada proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Peneliti dan pengamat menganalisis kelemahan-kelemahan dan kegiatan pembelajaran yang penerapannya belum sesuai dengan langkah-langkah metode belajar aktif tipe GGE untuk diperbaiki pada pertemuan selanjutnya. Pengamat juga memberikan saran kepada peneliti cara medisiplinkan siswa. Lembar pengamatan diberikan kepada peneliti setiap akhir pertemuan.Data tentang hasil belajar matematika siswa dikumpulkan dengan teknik tes melalui tes hasil belajar matematika berupa ulangan harian pada materi pokok kubus dan balok.Ulangan harian terdiri dari ulangan harian I dan ulangan harian II.Ulangan harian I dilaksanakan setelah pertemuan kedua dan ulangan harian II dilaksanakan setelah pertemuan kelima.Soal-soal ulangan harian berdasarkan indikator yang ingin dicapai pada materi pokok kubus dan balok.

3.6  Teknik Analisis Data
Data tentang aktivitas guru dan siswa serta hasil belajar siswa yang diperoleh pada penelitian ini kemudian dianalisis. Teknik analisis data yang akan digunakan adalah analisis deskriptif. Menurut Suhardjono (2006: 56) analisis deskriptif merupakan paparan ( deskripsi informasi tentang suatu gejala, peristiwa, kejadian sebagaimana adanya). Artinya penelitian ini mengkaji dan memaparkan sesuatu keadaan sebagaimana adanya.
3.6.1        Analisis Data Aktivitas Guru dan Siswa
Analisis data tentang aktivitas guru dan siswa didasarkan dari hasil lembar pengamatan selama pelaksanaan tindakan dengan melihat kesesuaian antara perencanaan dengan pelaksanaan tindakan. Pada lembar pengamatan akan tampak kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh guru pada saat menerapkan pembelajaran. Kekurangan-kekurangan akan direfleksi oleh peneliti. Hasil dari refleksi ini dapat dijadikan sebagai langkah untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan pada siklus pertama dan merencanakan tindakan baru pada silkus kedua.
3.6.2  Keberhasilan Tindakan.
Untuk menentukan keberhasilan tindakan dapat dianalisis dengan menggunakan kriteria keberhasilan tindakan yaitu : ketercapaian KKM, dan data distribusi frekuensi.
·      Analisis Data Ketercapaian  KKM
Analisis data tentang ketercapaian KKM pada materi pokok kubus dan balok dilakukan dengan membandingkan skor dasar, ulangan harian I dan ulangan harian II terhadap KKM.Untuk menentukan ketercapaian KKM dilakukan dengan menghitung ketuntasan individu.
Rumus yang digunakan adalah :
 , (Rezeki, 2009:5)
Keterangan :
KI    = Ketuntasan individu
SS    = Skor Hasil Belajar Siswa
SMI = Skor Maksimal Ideal
Pada penelitian ini siswa dikatakan memliki hasil belajar matematika mencapai KKM apabila perolehan ulangan harian pada materi pokok kubus dan balok minimal 60.Nilai ulangan harian I dan nilai ulangan harian II dianalisis setiap indikatornya untuk mengetahui ketercapaian KKM yang telah ditetapkan.Jika jumlah siswa yang mencapai KKM setelah tindakan yaitu ulangan harian I dan ulangan harian II lebih banyak dibandingkan dengan skor dasar maka tindakan dikatakan berhasil.
·      Analisis Daftar Distribusi Frekuensi
Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dengan membandingkan skor hasil belajar siswa sebelum tindakan dengan skor hasil belajar siswa setelah tindakan yaitu ulangan harian I dan ulangan harian II dengan menggunakan daftar distribusi frekuensi. Jika frekuensi siswa yang bernilai rendah menurun dari skor dasar ke ulangan harian I begitu juga dari ulangan harian I ke ulangan harian II atau frekuensi siswa yang bernilai tinggi meningkat dari skor dasar ke ulangan harian I begitu juga dari ulangan harian I ke ulangan harian II, dengan kata lain jika frekuensi siswa bernilai tinggi lebih banyak maka tindakan dikatakan berhasil. Apabila skor hasil belajar siswa setelah tindakan lebih baik maka dapat dikatakan bahwa tindakan berhasil, akan tetapi jika tidak ada bedanya atau lebih buruk maka tindakan belum berhasil.




BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1  Pelaksanaan Penelitian
            Tindakan yang dilakukan pada penelitian ini adalah penerapan metode belajar aktif tipe group to group exchange dalam pembelajaran matematika. Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini melalui beberapa tahap sebagai berikut.
4.1.1        Tahap Persiapan
Pada tahap ini peneliti telah mempersiapkan instrumen penelitian yang terdiri dari perangkat pembelajaran dan instrumen pengumpul data. Perangkat pembelajaran terdiri dari silabus (lampiran A), rencana pelaksanaan pembelajaran (lampiran B) yang disusun sebanyak enam kali pertemuan, lembar kerja siswa (lampiran C), lembar tugas siswa (lampiran D), dan objek atau alat yang diperlukan dalam pembelajaran. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah lembar pengamatan (lampiran E) untuk setiap kali pertemuan, perangkat tes hasil belajar yang terdiri dari kisi-kisi penulisan soal (lampiran F), naskah soal (Lampiran G) dan alternatif jawaban serta bobot dari setiap soal (lampiran H).
Untuk skor dasar diperoleh dari nilai ulangan harian pada materi pokok persamaan linier dua variable. Skor dasar ini digunakan untuk menyusun kelompok. Siswa dikelompokkan dengan anggota 5-6 orang sehingga diperoleh 5 kelompok beranggotakan 5 orang, dan 1 kelompok beranggotakan 6 orang. Kelompok ini bersifat heterogen secara akademik (lampiran I). 

4.1.2        Tahap Pelaksanaan Proses Pembelajaran
            Proses pembelajaran dilaksanakan tiga kali dalam satu minggu dengan rincian dua pertemuan terdiri dari dua jam pelajaran dan satu pertemuan terdiri dari satu jam pelajaran. Alokasi waktu dalam pelaksanaan pembelajaran selama 40 menit, untuk satu jam pelajaran 1 x 40 menit dan untuk dua jam pelajaran 2 x 40 menit. Rencana pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan pada pertemuan dua jam pelajaran, sedangkan pada pertemuan satu jam pelajaran digunakan untuk pembahasan soal latihan. Pelaksanaan proses pembelajaran pada penelitian ini menggunakan dua siklus terdiri dari enam kali pertemuan dengan dua kali ulangan harian. Siklus pertama tiga kali pertemuan dan siklus kedua tiga kali pertemuan.
4.1.2.1  Siklus Pertama
            Siklus pertama merupakan tahap awal penelitian ini, terdiri dari pertemuan ke-1, pertemuan ke-2, pertemuan ke-3 dan satu kali ulangan harian yakni ulangan harian ke-1. Sebelum rencana pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan ke-1 dimulai, peneliti diperkenalkan kepada siswa oleh guru yang mengajar mata pelajaran matematika pada kelas  yang akan peneliti ajar. Proses perkenalan ini berlangsung dua hari sebelum pertemuan ke-1 dimulai yaitu tepatnya pada tanggal 13 April 2010. Pada proses perkenalan ini peneliti menentukan kelompok dan menjelaskan kepada siswa metode belajar aktif tipe Group to Group Exchange (GGE) yang akan diterapkan dalam pembelajaran. Hal ini dilaksanakan agar siswa memahami dan terbiasa dengan metode baru yang akan diterapkan dalam pembelajaran.
1)      Pertemuan Pertama ( Kamis, 15 April 2010)
            Pada pertemuan pertama ini kegiatan pembelajaran membahas tentang defenisi kubus dan balok yang berpedoman pada RPP-1 (lampiran ) dengan menggunakan LKS-1 (Lampiran ) dan LTS-1 (lampiran ). Sebelum pembelajaran dimulai guru menjelaskan kepada siswa tentang langkah pembelajaran yang digunakan yaitu penerapan metode belajar aktif tipe Group to Group Exchange. Guru bersama siswa menyiapkan kondisi kelas sesuai dengan metode pembelajaran yang akan digunakan. Persiapan kondisi kelas tersebut yaitu dengan menyusun tempat duduk siswa dalam bentuk diskusi panel sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan. Selanjutnya Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, apersepsi dan memotivasi siswa dengan cara mengaitkan pengetahuan yang dimiliki siswa dengan materi yang akan dipelajari. Guru menjelaskan pembagian tugas yang akan dipelajari dan masing-masing juru bicara kelompok akan datang kekelompok lain untuk menjelaskan segmen materi yang dipelajari dalam kelompoknya. Setelah diskusi selesai guru akan mengundi kelompok dari segmen materi yang berbeda untuk mempresentasikan hasil diskusinya didepan kelas.
            Tugas yang akan dipelajari setiap kelompok yaitu : kelompok I, II,dan III membahas LKS-1 pada segmen materi kubus (kelompok kubus) dan kelompok IV, V, dan VI membahas LKS-1 pada segmen materi balok (kelompok balok). Setelah itu guru membagikan LKS-1 dan LTS-1 kepada semua siswa dalam kelompoknya masing-masing.Guru menyuruh siswa untuk bekerja mendiskusikan LKS-1 dan mengerjakan tugas yang ada pada LTS-1 secara berkelompok.
            Sewaktu diskusi kelompok harus dipastikan bahwa seluruh anggota kelompok memahami dan menguasai hasil dari kerja kelompoknya. Pada kegiatan diskusi Juru bicara kelompok diperintahkan datang kekelompok yang membahas segmen materi berbeda untuk menjelaskan materinya. Dalam hal ini kelompok  I ke kelompok IV, II ke kelompok V, III ke kelompok VI dan begitu juga sebaliknya. Selama siswa bekerja dalam kelompoknya guru membimbing, mengamati, dan memberikan bantuan kepada siswa. Setelah masing-masing juru bicara kelompok selesai menyampaikan materinya kekelompok yang membahas segmen materi berbeda guru mengundi kelompok yang akan mempresentasikan hasil diskusinya. Dalam hal ini guru menetapkan kelompok yang pertama tampil yaitu kelompok yang membahas segmen materi kubus (kelompok kubus). Siswa menggunakan alat peraga saat menjelaskan hasil diskusinya, kelompok lain memperhatikan dan memberikan tanggapan. Kegiatan  dilanjutkan untuk presentasi kelompok terpilih yang membahas segmen materi balok dan kelompok lain memperhatikan dan memberikan tanggapan. Setelah  presentasi dan setiap kelompok selesai mengerjakan LTS yang sudah dibagikan sebelumnya guru bertanya kepada siswa soal yang sulit untuk diselesaikan. Selanjutnya guru bersama siswa menjawab pertanyaan tersebut dan menyimpulkan pembelajaran. 
            Berdasarkan hasil pengamatan pada pertemuan pertama ini, aktivitas yang dilakukan guru sudah dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah yang telah ditentukan. Namun pada pertemuan pertama ini guru tidak sempat menyimpulkan pelajaran karena banyak waktu terbuang pada pembentukan kelompok dan kegiatan presentasi. Guru juga tidak sempat memberikan pr kepada siswa pada pertemuan pertama ini, karena waktu yang telah ditentukan sebelumnya banyak terbuang pada kegiatan mengorganisasikan siswa dalam kelompok.
             Pada saat guru menyuruh siswa duduk dalam kelompoknya masih banyak siswa yang bingung mengatur posisi tempat duduknya. Siswa masih terlalu ribut saat mencari teman dan posisi duduk dalam kelompoknya, sehingga banyak menghabiskan waktu pada pertemuan pertama ini. Saat pembagian LKS-1 dan LTS-1 siswa terlihat senang untuk mengerjakannya, hal ini ditandai dengan siswa tertarik menerimanya. Dalam mendiskusikan LKS-1 dan LTS-1 siswa masih mengalami kesulitan untuk memahami dan menjawab pertanyaan pada LKS-1 dan LTS-1, hal ini disebabkan karena siswa masih belum terbiasa menggunakan LKS-1 dan LTS-1 tersebut. Pada saat kelompok disuruh mengirim utusannya untuk memberi informasi tentang materinya, perwakilan kelompok tersebut masih seperti membaca buku dalam menjelaskan materinya. Selanjutnya sewaktu presentasi yang pertama siswa masih bingung cara menyampaikan hasil diskusinya, dan tidak menggunakan alat peraga yang telah disiapkan karena belum terbiasa. Pada pertemuan pertama ini belum ada siswa yang berani menanggapi dan bertanya pada kelompok yang mempresentasikan materinya. Siswa kelihatan malu-malu dan belum berani dalam mengemukakan pendapatnya. Saat mengerjakan LTS-1 masih sebagian siswa yang mengerjakan dan tidak bisa membahas semua pertanyaan dalam LTS-1 karena keterbatasan waktu. Proses pembelajaran belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan, masih ada siswa yang kurang serius, tidak memperhatikan guru, dan bercanda dengan temannya.

2)       Pertemuan kedua ( Senin, 19 April 2010)
            Pada pertemuan kedua ini kegiatan pembelajaran membahas tentang unsur-unsur pada kubus dan balok yang berpedoman pada RPP-2 (lampiran ) dengan menggunakan LKS-2 (lampiran ) dan LTS-2 (lampiran ). Pada saat guru memasuki kelas siswa sudah mulai terbiasa dengan metode pembelajaran yang digunakan. Hal ini ditandai dengan siswa sudah bisa mengatur posisi tempat duduk masing-masing sesuai dengan kelompoknya, sehingga pada saat guru masuk kedalam kelas siswa sudah siap untuk memulai pembelajaran. Kegiatan pembelajaran pada pertemuan kedua ini dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Selanjutnya guru mengingatkan kembali metode pembelajaran yang digunakan sama dengan pertemuan sebelumnya.  Selanjutnya guru membagikan LKS-2, LTS-2, dan bangun ruang kubus dan balok yang terbuat dari karton kepada masing-masing kelompok sesuai tugas yang diberikan untuk menentukan unsur-unsur yang ada pada kubus dan balok.
             Dalam diskusi kelompok juru bicara masing-masing kelompok datang kekelompok lain untuk menyampaikan materinya dengan menggunakan alat peraga yang sudah dibagikan guru sebelumnya. Selama kegiatan berlangsung harus dipastikan bahwa seluruh anggota kelompok mamahami dan menguasai hasil kerja kelompoknya. Untuk itu selama siswa bekerja dalam kelompoknya guru berkeliling mengamati, membimbing, dan memberikan bantuan jika diperlukan. Dalam mengerjakan LKS-2 dan LTS-2 ini siswa sudah terlihat lebih antusias, hal ini terlihat semangat mereka untuk menemukan unsur-unsur pada kubus dan balok. Siswa juga sudah mulai mampu bekerja sama dalam kelompoknya, terlihat siswa sudah tidak ribut lagi seperti pada pertemuan pertama. Selanjutnya, setelah kelompok tuntas mendiskusikan LKS yang diberikan dan masing-masing utusan kelompok sudah selesai menjelaskan materinya kekelompok lain guru melanjutkan dengan kegiatan presentasi kelompok. Kemudian guru mengundi kelompok yang akan mempresentasikan didepan kelas hasil diskusinya. Presentase pertama yaitu kelompok segmen materi kubus kemudian dilanjutkan dengan kelompok segmen materi balok.
            Berdasarkan hasil pengamatan pada pertemuan kedua ini, aktivitas guru sudah terlaksana seluruhnya, aktivitas dimulai dengan menyampaikan tujuan pembelajaran, menyampaikan apersepsi serta memotivasi siswa, menyampaikan strategi pembelajaran, sampai pada kegiatan akhir yaitu memberikan pr. Pada pertemuan kedua ini siswa sudah mulai bersemangat dalam melaksanakan pembelajaran. Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang tujuan pembelajaran, strategi pembelajaran dan siswa juga sudah terlihat tidak ribut lagi dalam kelompoknya masing-masing.
            Semua kegiatan sudah dilalui oleh siswa sesuai dengan petunjuk guru. Pada kegiatan diskusi kelompok siswa sudah mulai terbiasa dengan metode pembelajaran dan siswa juga sudah mulai terlihat aktif dalam kegiatan presentasi kelompok. Dalam menjelaskan materi juru bicara sebagian  kelompok juga sudah mulai tidak seperti membaca buku, namun masih ada beberapa kelompok lagi yang masih seperti membaca buku. Sebagian juru bicara kelompok yang mempresentasikan hasil diskusinya sudah menggunakan alat peraga yang telah disiapkan sebelumnya.
            Siswa sudah ada yang berani memberikan tanggapan dan bertanya kepada juru bicara kelompok yang tampil. Kegiatan presentasi kelompok sudah berjalan dengan baik dan guru juga sudah membimbing siswa secara merata. Setelah waktu yang ditentukan habis, pada kegiatan akhir pembelajaran guru bersama siswa menyimpulkan materi yang dipelajari dan memberikan PR kepada siswa.  Kegiatan pembelajaran pada pertemuan kedua sudah terlaksana semua sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah dibuat.
3)      Pertemuan ketiga ( Kamis, 22 April 2010)
            Pada pertemuan ketiga ini kegiatan pembelajaran membahas tentang jaring-jaring kubus dan balok yang berpedoman pada RPP-3 (lampiran ) dengan menggunakan LKS-3 (lampiran ) dan LTS-3 (lampiran ). Kegiatan pembelajaran pada pertemuan ketiga ini dimulai dengan menyampaikan tujuan pembelajaran, menyampaikan apersepsi dan memotivasi siswa serta membahas PR yang diberikan pada pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan ketiga ini ada dua orang siswa yang tidak mengerjakan PR. Bagi yang tidak membuat PR tersebut guru hanya mengingatkan bagi yang tidak mengerjakan PR maka nilai tugasnya kosong, guru juga memberitahukan tujuan diberikan PR. Selanjutnya guru mengingatkan kembali metode pembelajaran yang digunakan sama dengan pertemuan sebelumnya. Kemudian guru membagikan LKS-3, LTS-3, dan bangun ruang kubus dan balok yang terbuat dari karton sebagai alat peraga kepada masing-masing kelompok sesuai tugas yang diberikan untuk menemukan jaring-jaring kubus dan balok. LKS-3 yang dibagikan mencakup semua materi yang akan dipelajari, segmen materi jaring-jaring kubus dibahas oleh kelompok kubus yaitu kelompok I,II,III dan segmen materi jaring-jaring balok dibahas oleh kelompok balok yaitu IV,Vdan VI. Dalam diskusi kelompok juru bicara masing-masing kelompok datang kekelompok lain untuk menyampaikan materinya dengan menggunakan alat peraga yang sudah dibagikan guru sebelumnya. Selama kegiatan berlangsung harus dipastikan bahwa seluruh anggota kelompok mamahami dan menguasai hasil kerja kelompoknya. Untuk itu selama siswa bekerja dalam kelompoknya guru berkeliling mengamati, membimbing, dan memberikan bantuan jika diperlukan. Diakhir pembelajaran guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran dan memberikan pekerjaan rumah.
            Berdasarkan hasil pengamatan pada pertemuan ketiga ini, kegiatan pembelajaran sudah mengalami peningkatan dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Aktivitas guru sudah terlaksana secara keseluruhan, dan aktivitas siswa juga sudah mengalami peningkatan dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Siswa sudah mulai terbiasa dalam mendiskusikan dan mengerjakan soal-soal pada LKS dan LTS yang sudah dibagikan. Pada kegiatan diskusi kelompok siswa sudah mulai terbiasa dengan metode pembelajaran dan siswa juga sudah mulai terlihat aktif dalam menyampaikan informasi materi kelompoknya ke kelompok lain dalam kegiatan presentasi kelompok. Dalam menjelaskan materi juru bicara sebagian  kelompok juga sudah mulai tidak seperti membaca buku, siswa sudah menggunakan alat peraga dengan baik. Siswa juga sudah mulai mampu bekerja sama dengan kelompoknya dalam memberikan pertanyaan dan tanggapan kepada kelompok yang tampil. Setelah waktu yang ditentukan habis, guru bersama siswa menyimpulkan materi yang dipelajari dan memberikan PR kepada siswa.  Kegiatan pembelajaran pada pertemuan ketiga sudah terlaksana semua sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah dibuat.
4)      Pelaksanaan Ulangan Harian I ( Senin, 26 April 2010)
            Berdasarkan pedoman pada silabus bahwa ulangan harian I dilaksanakan setelah tiga kali pertemuan. Guru melaksanakan ulangan harian I dengan memberikan tes hasil belajar pada sub pokok bahasan defenisi kubus dan balok, unsure-unsur pada kubus dan balok , serta jaring-jaring kubus dan balok. Soal pada ulangan harian I ini terdiri dari 5 butir soal berdasarkan indikator ketercapaian. Ulangan harian I dilaksanakan selama 2 x 40 menit.
            Pada saat dilaksanakan ulangan harian I, siswa tetap duduk ditempat  masing-masing dan untuk menghindari kerja sama antar siswa guru memberi jarak tempat duduk siswa yang berdekatan. Sebelum membagikan soal guru mengabsen siswa terlebih dahulu, hal ini dilaksanakan agar guru mengetahui siswa yang tidak mengikuti ulangan harian I. Pada pelaksanaan ulangan harian I ada dua orang siswa yang tidak mengikuti karena siswa tersebut dalam keadaan sakit. Bagi siswa yang tidak hadir ketika ulangan harian I diadakan, guru memberikan kesempatan pada pertemuan berikutnya untuk memberikan ulangan harian susulan pada siswa tersebut dengan soal yang sama. 
            Selama berlangsungnya kegiatan ulangan harian I, guru tidak mengalami kesulitan dalam mengawasi siswa. Keadaan kelas tenang dan siswa terlihat fokus dalam mengerjakan soal. Pada menit akhir kegiatan ulangan sudah ada beberapa siswa yang mengatakan siap, tapi guru menyuruh memeriksa kembali hasil pekerjaannya. Siswa yang lain tetap tenang sampai waktu yang ditetapkan selesai, setelah waktu yang ditetapkan selesai semua siswa mengumpulkan jawabannya. Ulangan harian I berjalan sesuai dengan yang direncanakan.
4.1.2.2  Refleksi Siklus Pertama
            Berdasarkan lembar pengamatan, selama melakukan tindakan sebanyak tiga kali pertemuan banyak sekali kekurangan-kekurangan dari guru maupun siswa. kekurangan-kekurangan tersebut antara lain:
1.      Pada pertemuan pertama guru kurang jelas menyampaikan tata cara pelaksanaan pembelajaran sehingga pelaksanaan pembelajaran belum berjalan dengan baik.
2.      Penggunaan waktu yang belum efektif, karena pada pertemuan pertama banyak waktu dihabiskan untuk duduk dalam kelompok yang ditentukan.
3.      Pada saat mengerjakan LKS dan LTS, sebagian siswa belum terlihat serius karena belum terbiasa dan belum dapat berdiskusi dengan baik dalam kelompoknya.
4.      Pada saat presentasi kelompok masih ada sebagian juru bicara kelompok dalam menyampaikan hasil diskusinya seperti membaca buku.
5.      Pada saat pengundian kelompok untuk presentasi didepan kelas, kelompok yang terpilih baik dari segmen materi kubus maupun kelompok segmen materi balok bisa terpilih dua kali. Hal ini dapat menimbulkan kemungkinan akan ada kelompok yang tidak terpilih.
6.      Sebagian siswa masih kurang terlibat aktif pada saat presentasi didepan kelas, hanya beberapa kelompok saja yang bertanya kepada kelompok penyaji.
7.      Bimbingan yang diberikan guru masih kurang merata, guru cendrung berada didepan kelas sehingga sebagian siswa tidak diperhatikan.
            Berdasarkan refleksi siklus I peneliti menyusun rencana perbaikan sebagai berikut.
1.      Pada pertemuan 1 jam pelajaran (1 x 40menit ) sebelum dilakukan siklus ke II guru menyampaikan tujuan tata cara pelaksanaan pembelajaran dengan lebih jelas sehingga siswa terbiasa dan proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
2.      Mengatur waktu seefektif mungkin agar pelaksanaan pembelajaran berikutnya dapat berjalan sesuai waktu yang telah ditetapkan.
3.      Memberikan penjelasan kepada siswa tentang betapa pentingnya kerjasama kelompok, sehingga dalam menyelesaikan suatu permasalahan siswa dapat lebih kreatif dan serius berdiskusi.
4.      Memberikan bimbingan kepada siswa agar lebih menguasai materi, sehingga ketika presentasi siswa lebih percaya diri tanpa melihat konsep dan menggunakan alat peraga tanpa melihat pedoman.
5.      Bagi kelompok yang sudah terpilih pada pertemuan sebelumnya digantikan dengan kelompok yang lain. untuk siklus kedua pengundian tidak berlaku lagi untuk kelompok yang sudah terpilih.
6.      Memotivasi siswa agar dapat menemukan ide-ide dalam dirinya agar timbul pertanyaan dari siswa sehingga diskusi berjalan dengan baik.
7.      Memantau dan memberikan bimbingan lebih merata kesemua kelompok sehingga siswa mengetahui apa yang harus dikerjakan dan lebih serius dalam belajar.
4.1.2.3   Siklus Kedua
            Untuk siklus kedua dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan dan satu kali ulangan harian. Pada siklus kedua ini peneliti masih tetap menerapkan langkah-langkah pembelajaran pada siklus pertama dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan berdasarkan refleksi siklus pertama.
1)      Pertemuan keempat ( Kamis, 29 April 2010 )
            Sebelum proses pembelajaran dimulai guru mengumumkan hasil ulangan harian I. Guru memberikan selamat bagi yang nilainya tinggi, agar siswa lebih termotivasi belajar dalam kelompok, dan guru memberikan penghargaan bagi kelompok yang terbaik. Pada kegiatan awal dalam pertemuan ketiga ini guru memotivasi siswa agar dipertemuan berikutnya mendapat nilai lebih bagus. Selanjutnya guru membahas soal yang sulit diselesaikan siswa pada ulangan harian I.
             Pada pertemuan Keempat ini kegiatan pembelajaran membahas tentang luas permukaan kubus dan balok yang berpedoman pada RPP-4 (Lampiran ) dengan menggunakan LKS-4 (lampiran ) dan LTS-4 (Lampiran ). Pada pertemuan keempat guru mengawali pembelajaran dengan mengorganisasikan siswa duduk dalam kelompoknya masing-masing, kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Selanjutnya guru mengingatkan kembali langkah-langkah pembelajaran yang digunakan sama dengan pertemuan sebelumnya. Guru mengingatkan kepada siswa bahwa kekompakan dan keberhasilan kelompok ditentukan oleh kerjasama masing-masing anggota kelompok. Hal ini bertujuan agar siswa duduk dengan lebih tertib dari pertemuan sebelumnya. Selanjutnya guru membagikan LKS-4 dan LTS-4 kesetiap kelompok sesuai tugas masing-masing kelompok. Kemudian siswa  mengerjakan LKS, LTS sesuai tugas dan petunjuk yang ada pada LKS dengan diskusi secara kelompok.
            Pada pertemuan keempat ini guru berusaha lebih merata dalam membimbing siswa mengerjakan LKS dan LTS. Guru berdiri tidak hanya didepan kelas dan guru lebih memberikan perhatian yang merata kepada seluruh siswa. Siswa sudah mulai aktif dan terbiasa dalam mengerjakan LKS dan LTS, siswa juga sudah terlihat tekun dalam mengerjakan LKS dan LTS. Siswa sangat termotivasi dalam menemukan Luas permukaan kubus dan balok dengan menggunakan alat peraga sesusai dengan petunjuk yang ada pada LKS.
        Berdasarkan hasil pengamatan pada pertemuan keempat ini kegiatan aktivitas guru dan siswa sudah berjalan dengan baik. pembelajaran sudah berjalan dengan baik dan siswa juga sudah sangat paham dengan metode pembelajaran yang digunakan. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan siswa dikelas yang aktif dalam berdiskusi dan mengerjakan tugas yang diberikan. Semua kegiatan pembelajaran terlaksana dengan baik sesuai dengan waktu yang telah dialokasikan. Pada kegiatan penyampaian materi masing-masing juru bicara kelompok ke kelompok lain siswa juga sudah terlihat aktif dan semangat. Juru bicara kelompok dipilih oleh anggota kelompoknya masing-masing. Guru menyarankan kepada siswa agar juru bicara kelompok tidak siswa itu saja, tetapi dapat juga siswa yang lain dalam kelompok yang sama secara bergantian. Kelompok yang membahas segmen materi luas permukaan kubus yaitu kelompok I, II, III, dan kelompok yang membahas segmen materi luas permukaan balok yaitu kelompok IV, V, VI, masing-masing siswa sudah paham aturannya sehingga guru tidak kesulitan lagi dalam membimbing siswa. Pada kegiatan presentasi kelompok, kelompok yang terpilih dalam membahas segmen materi yang telah ditentukan siswa juga sudah tidak seperti membaca buku lagi, siswa sudah menggunakan alat peraga dengan baik dan bisa menjawab beberapa pertanyaan dari kelompok lain. Sebagian anggota dari setiap kelompok sudah berani memberikan tanggapan dan pertanyaan kepada kelompok penyaji. Diskusi berjalan dengan baik dan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh kelompok penyaji dijawab dan dijelaskan oleh guru.
            Diakhir pelajaran guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari dan siswa mencatat kesimpulan pembelajaran yang dijelaskan guru. Selanjutnya guru memberikan PR kepada siswa dan guru menyuruh siswa mempelajari pelajaran selanjutnya tentang volume kubus dan balok agar pada pertemuan selanjutnya persiapan siswa lebih baik untuk menguasai materi.
2)      Pertemuan Kelima ( Senin, 3 Mei 2010).
            Pada pertemuan kelima ini kegiatan pembelajaran membahas tentang volume kubus dan  balok yang berpedoman pada RPP-5 ( lampiran ) dengan menggunakan LKS-5 ( lampiran ) dan LTS-5 ( lampiran ).
            Berdasarkan hasil pengamatan pada pertemuan kelima ini secara keseluruhan kegiatan pembelajaran sudah berjalan dengan baik dan mengalami peningkatan dari pertemuan sebelumnya. guru mengawali pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran, menyampaikan apersepsi, memotivasi siswa dan menyampaikan strategi pembelajaran dengan metode belajar aktif tipe group to group exchange. Selanjutnya guru mengorganisasikan siswa dalam kelompoknya masing-masing. Kemudian guru membagikan LKS dan LTS kepada masing-masing kelompok untuk didiskusikan dalam kelompok masing-masing.
            Pada pertemuan kelima ini guru berusaha semaksimal mungkin dalam membimbing siswa mengerjakan LKS dan LTS. Siswa sudah mulai terbiasa dan aktif dalam mendiskusikan LKS dan LTS. Semua siswa langsung terlihat aktif dalam mendiskusikan dan mengerjakan  LTS yang sudah diberikan dan siswa bertanya kepada guru apabila tidak paham. Selanjutnya guru seperti biasa menyuruh utusan kelompok yang membahas segmen materi volume kubus yaitu kelompok I,II,III, untuk menyampaikan materinya kekelompok yang membahas segmen materi volume balok yaitu kelompok IV, V, dan VI secara bergantian. Setelah kegiatan penyampaian materi dilaksanakan guru mengundi kelompok yang terpilih untuk mempresentasikan segmen materinya secara bergantian. Untuk presentasi pertama kelompok yang tampil adalah kelompok yang membahas segmen materi volume kubus kemudian dilanjutkan dengan kelompok segmen materi volume balok. Siswa yang lain diberi kesempatan untuk bertanya dan memberikan tanggapan. Bagi siswa yang kelompoknya tidak mau bertanya guru akan meminta siswa tersebut mengajukan pertanyaan.
             Setelah waktu yang ditetapkan habis guru bersama siswa membahas LTS serta menyimpulkan pembelajaran dan memberikan pekerjaan rumah. Siswa sudah terlihat mencatat kesimpulan pembelajaran yang dijelaskan guru. Salah seorang siswa ada yang bertanya kepada guru tentang soal yang dianggapnya sulit, kemudian guru bersama siswa membahas soal yang sulit tersebut.
3)      Pertemuan Keenam ( Kamis, 6 Mei 2010).
            Pada pertemuan kelima ini kegiatan pembelajaran membahas tentang luas permukaan serta volume kubus dan balok jika ukuran rusuknya berubah yang berpedoman pada RPP-6 ( lampiran ) dengan menggunakan LKS-6 ( lampiran ) dan LTS-6 ( lampiran ).
            Berdasarkan hasil pengamatan pada pertemuan keenam ini guru sudah sudah melaksanakan kegiatan pembelajaran jauh lebih baik pada pertemuan sebelumnya. Siswa juga sudah melaksanakan kegiatan dengan baik dan sudah terbiasa dengan metode pembelajaran yang diterapkan. Secara keseluruhan siswa sudah sangat aktif dalam melaksanakan semua kegiatan. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan diskusi kelompok. Siswa sudah mampu bekerjasama dengan anggota kelompoknya masing-masing. Pada kegiatan penyampaian materi kekelompok lain jurubicara kelompok juga sudah terlihat fasih berbicara dalam menyampaikan materi kelompoknya. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan presentasi kelompok didepan kelas. Bagi kelompok yang sudah terpilih pada pertemuan sebelumnya mendapat kesempatan lagi untuk tampil karena jumlah kelompok yang mendapat segmen materi kubus dan balok masing-masing hanya tiga kelompok. Ketiga kelompok ini sudah mendapat giliran tampil pada pertemuan sebelumnya.
             Pada kegiatan presentasi didepan kelas siswa juga sudah fasih dalam menyampaikan materinya, siswa juga sudah menggunakan alat peraga dengan baik. Siswa juga sudah mulai banyak yang berani dalam memberikan pertanyaan dan tanggapan kepada jurubicara kelompok penyaji. Selanjutnya kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan guru menyimpulkan pembelajaran dan memberikan beberapa contoh soal agar siswa lebih paham tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan. Diakhir pertemuan keenam ini guru menginformasikan bahwa akan diadakan ulangan harian II pada pertemuan berikutnya. Untuk itu diharapkan siswa dapat mempersiapkan diri dan mempelajari semua materi yang telah diberikan.
4)      Pelaksanaan ulangan harian II ( Senin, 10 Mei 2010 )
            Pada pertemuan ini guru memberikan ulangan harian II yang dilaksanakan setelah tiga kali pertemuan. Tes dilaksanakan selama 2 x 40 menit. Pada pelaksanaan ulangan harian II untuk menghindari kerja sama antar siswa, guru melakukan usaha dengan memberi jarak antara tempat duduk siswa.
            Setelah waktu ulangan harian selesai semua siswa mengumpulkan jawaban. Kemudian guru menyampaikan kepada siswa bahwa pelaksanaan pembelajaran group to group exchange pada materi pokok kubus dan balok telah selesai. Guru mengucapkan terimah kasih kepada semua siswa yang telah mengikuti pelaksanaan pembelajaran group to group exchange. Kemudian guru berdiskusi dengan siswa mengenai pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru. Siswa senang dengan metode pembelajaran yang telah dilakukan selama mempelajari materi kubus dan balok.


4.1.2.4  Refleksi Siklus Kedua
            Untuk siklus kedua sudah lebih baik dari siklus pertama, siswa sudah paham dengan langkah pembelajaran sehingga tidak terlalu banyak melakukan kesalahan. Walaupun siswa sudah mulai aktif namun siswa masih kurang terkontrol yang ditandai adanya siswa yang berjalan kekelompok lain saat diskusi berlangsung. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan juga sudah terlaksana sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah dibuat. Untuk itu siklus kedua ini peneliti tidak melakukan perencanaan untuk siklus berikutnya. Hasil refleksi siklus kedua ini peneliti serahkan kepada guru sebagai bahan masukan untuk perbaikan kedepan.

4.2. Analisis Hasil Tindakan
            Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data tentang aktifitas siswa dan guru dalam proses pembelajaran, ketercapaian kriteria ketuntasan hasil belajar, dan keberhasilan tindakan.
4.2.1  Aktivitas Guru dan Siswa
            Untuk mengetahui aktifitas guru dan siswa dalam penerapan metode belajar aktif tipe GGE dilakukan pengamatan terhadap aktifitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Kemudian data yang diperoleh melalui lembar pengamatan ( lampiran E) dianalisis.
            Dari hasil pengamatan untuk pertemuan pertama (lampiran ), proses pembelajaran belum sesuai dengan perencanaan tetapi peneliti telah melakukan tahapan pembelajaran dengan baik. Ada beberapa kendala yang ditemui pada pertemuan pertama diantaranya, pada saat pengelompokan dan menyusun tempat duduk siswa berdasarkan kelompoknya masing-masing siswa tidak tertib duduk dalam kelompok yang ditentukan. Siswa sangat ribut dalam mencari teman sekelompoknya dan masih bingung dengan apa yang akan mereka kerjakan, hal ini disebabkan karena guru dalam menjelaskan langkah-langkah pembelajaran belum jelas sehingga siswa tidak mengerti sepenuhnya. Pada tahap berdiskusi dengan teman sekelompok masih banyak siswa yang langsung bertanya kepada guru ketika menemukan kendala dan masih banyak siswa yang berjalan kekelompok lain. Dalam memberikan bimbingan, guru hanya terfokus pada kelompok tertentu (kelompok yang bertanya) saja. Waktu yang digunakan tidak cukup untuk menyimpulkan pelajaran bersama siswa tentang materi yang diberikan, sehingga tidak sesuai dengan perencanaan. Dari kekurangan-kekurangan tersebut perlu dilakukan perbaikan-perbaikan untuk pertemuan selanjutnya.
            Pada pertemuan kedua, kelemahan-kelemahan pada pertemuan pertama sudah diperbaiki seperti yang terlihat pada lembar pengamatan (Lampiran ). Hal ini terlihat dari semua kegiatan pada perencanaan telah terlaksana dan penggunaan waktu lebih efisien dan guru telah merata dalam membimbing kelompok ketika kegiatan diskusi berlangsung. Pada saat pertemuan kedua ini siswa dapat mempresentasikan dengan baik hasil diskusi dan siswa yang lain mulai aktif menanggapi pada saat presentasi. Guru dalam membimbing dan mengawasi siswa sudah merata. Aktivitas pembelajaran sudah meningkat, hal ini ditandai dengan antusiasnya siswa dalam diskusi kelompok. Presentasi kelompok sudah berjalan dengan baik, namun dari segi penyampaian siswa yang melakukan presentasi masih terlihat gugup. Guru sudah melakukan aktifitas sesuai dengan yang ada pada RPP.
            Pada pertemuan keempat, siswa sudah memahami dan  terbiasa dengan metode belajar aktif tipe group to group exchange. Pada saat diskusi kelompok siswa sudah terbiasa dan siswa dari kelompok segmen materi yang berbeda juga sudah ada yang memberikan tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan. Dalam penyampaian segmen materi yang berbeda kekelompok lain, juru bicara kelompok sudah tidak seperti membaca buku lagi dalam penyampaiannya. Alat peraga juga sudah  digunakan siswa dalam tahap presentasi kelompok berlangsung. Dalam mengerjakan LTS siswa terlihat semangat dan tidak ada yang ribut dan berjalan kekelompok lain. Mereka sudah kelihatan kompok dengan masing-masing anggota kelompoknya dalam mengerjakan LTS. Pada pertemuan ke empat ini semua kegiatan yang telah direncanakan berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran sudah dilakukan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
            Pada pertemuan keenam, berpedoman pada lembar pengamatan (Lampiran ) semua kegiatan berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran sudah berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Kegiatan diskusi, penyampaian masing-masing segmen materi, dan presentasi kelompok terpilih sudah berjalan dengan baik. Setiap anggota kelompok sudah dapat bekerja sama dengan baik dalam mengerjkan LKS dan LTS yang sudah diberikan guru. Secara keseluruhan penerapan metode belajar aktif tipe group to group exchange sudah terlaksana dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari lembar pengamatan pada pertemuan kelima semua kegiatan sudah dilaksanakan oleh guru.
4.2.2  Analisis Ketercapaian KKM
            Peningkatan hasil belajar pada ulangan harian I (Lampiran J2)  dan ulangan harian II (Lampiran J3) yang diperoleh siswa sesudah dilaksanakan tindakan metode belajar aktif tipe group to group exchange, dengan melihat jumlah siswa yang mencapai KKM pada skor dasar, ulangan harian I dan II. Adapun jumlah siswa yang mencapai KKM 60  dapat dilihat pada tabel 3 berikut.
Tabel 1: Analisis Ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM)

Jumlah Siswa Yang Mencapai KKM
% Jumlah Siswa Yang Mencapai KKm
Skor Dasar
14
45,1
Ulangan Harian I
22
70,96
Ulangan Harian II
17
54,83
            Dari tabel diatas dapat digambarkan dalam diagram batang sebagai berikut:
        Gambar 3. Grafik Analisis Kriteria Ketuntasan Minimum
Dari tabel dan grafik diatas terlihat bahwa jumlah siswa yang mencapai KKM mengalami peningkatan pada ulangan harian I dan II dari skor dasar. Pada skor dasar jumlah siswa yang mencapai KKM adalah 14 orang atau 45,1% dari jumlah siswa, sedangkan pada ulangan harian I jumlah siswa yang mencapai KKM 22 orang atau 70,96% dari jumlah siswa, dan pada ulangan harian II jumlah siswa yang mencapai KKM adalah 17 orang atau 54,83% dari jumlah siswa. Pada tabel dan grafik diatas jumlah siswa yang mencapai KKM menurun dari ulangan harian I ke ulangan harian II. Hal ini disebabkan karena materi pada siklus kedua lebih sulit dibandingkan materi pada siklus pertama.
            Ketuntasan belajar siswa untuk setiap indikator pada UH I dan UH II dapat dilihat pada tabel 4 dan 5 berikut.
Tabel 2 : Analisis Ketuntasan Belajar Matematika Siswa Setiap Indikator
                Pada UH I

NO
Indikator Ketercapaian
Jumlah Siswa Yang Mencapai KKM Indikator
%
1

Mendefenisikan kubus dan balok
47
151,61
2

Menentukan  unsur-unsur yang ada pada kubus dan balok
18
58,06
3
Membuat jaring-jaring kubus dan balok
15
48,38
Untuk Seluruh Indikator
22
70,96

Berdasarkan tabel di atas, ketercapaian KKM untuk setiap indikator pada ulangan harian I dapat dianalisis bahwa untuk keseluruhan indikator siswa yang mencapai KKM berjumlah 22 orang dari 31 siswa, yang apabila dipersentasekan yaitu 70,96% yang mencapai KKM.
    Ketercapaian KKM untuk indikator 1 dan 2 yaitu  mendefenisikan kubus dan balok, siswa yang mencapai KKM semuanya sudah benar dalam mengisi jawaban soal tanpa ada satu pun jawaban yang kosong. Sebagian siswa yang belum mencapai KKM ada diantara siswa tersebut salah dalam menuliskan diagonal ruang dan bidang diagonal pada kubus dan balok tersebut. Untuk indikator 3 dan 4 yaitu menentukan unsur-unsur yang ada pada kubus dan balok siswa yang mencapai KKM rendah dibandingkan indikator 1 dan 2. Kesalahan siswa yang belum mencapai KKM pada indikator 3 dan 4 disebabkan siswa kurang teliti dan tidak lengkap dalam menuliskan sisi yang saling berhadapan pada kubus dan balok tersebut. Pada indikator 5 yaitu membuat jaring-jaring kubus dan balok, siswa yang belum mencapai KKM secara keseluruhan tidak membuat gambar jaring-jaring kubus dan balok sesuai dengan yang diminta soal. Pada soal siswa disuruh membuat masing-masing 2 macam jaring-jaring kubus dan balok, sementara siswa yang belum mencapai KKM hanya membuat satu saja bahkan ada sebagian siswa yang tidak membuat sama sekali.

Tabel 3 : Analisis Ketuntasan Belajar Matematika Siswa Setiap Indikator
                Pada UH II

NO
Indikator Ketercapaian
Jumlah Siswa Yang Mencapai KKM Indikator
%
1

Menghitung luas permukaan kubus dan balok
61
196,77
2
Menghitung volume kubus dan balok
11
35,48
Untuk Seluruh Indikator
17
54,83

Berdasarkan tabel di atas, pada ulangan harian II siswa yang mencapai KKM untuk seluruh indikator 17 orang dari 31 siswa, yang apabila dipersentasekan yaitu 54,8% siswa yang mencapai KKM. Soal pada ulangan harian II terdiri dari 5 butir soal dengan poin 100 apabila siswa bisa menjawab semua soal dengan benar. Berdasarkan tabel di atas, pada indikator 1 dan 2 yaitu menghitung luas permukaan kubus dan balok siswa yang mencapai KKM secara keseluruhan sudah benar dalam menjawab soal. Jumlah siswa yang mencapai KKM pada indikator 1 adalah 25 orang atau 80,64% dari jumlah siswa, sedangkan pada indikator 2 jumlah siswa yang mencapai KKM adalah 24 orang atau 77,41% dari jumlah siswa. Siswa yang belum mencapai KKM pada indikator 2 tidak lengkap dalam menjawab  soal dan sebagian mengalami kesalahan dalam menentukan tinggi balok. Kesalahan siswa tersebut dapat dilihat pada jawaban siswa seperti:
Jawaban Siswa :                                              Jawaban yang benar :                           
       L = 2 ( pl + pt + lt)                                            L = 2 ( pl + pt + lt)
   376 = 2 ( 10 x 6 + 10 x t + 6 x t)                        376 = 2 ( 10 x 6 + 10 x t + 6 x t)
   376 = 2 ( 60 + 10t + 6t)                                      376 = 2 ( 60 + 10t + 6t)
   376 = 2 ( 60 + 16t )                                             376 = 2 ( 60 + 16t )
   376 = 120 + 32t                                                   376 = 120 + 32t
   32t =                                                                376 - 120 = 32t
       t = 32 x 3,13                                                    256 = 32t
                                                                                   t  =
                                                                                   t  = 8 cm                                                               
Pada indikator 3 jumlah siswa yang mencapai KKM sangat rendah dibandingkan dengan indikator yang lain. Jumlah siswa yang mencapai KKM pada indikator 3 adalah 6 orang atau 19,35% dari jumlah siswa. Kesalahan siswa pada indikator 3 secara keseluruhan siswa salah dalam menentukan panjang diagonal bidang pada kubus. Siswa lupa dalam menggunakan rumus phytagoras untuk mencari panjang diagonal bidang kubus tersebut. Untuk indikator 4 siswa yang mencapai KKM adalah 12 orang atau 38,70% dari jumlah siswa. Pada indikator 5 siswa yang mencapai KKM adalah 5 orang atau 16,12% dari jumlah siswa. Kesalahan siswa pada indikator 5 secara keseluruhan sebagian siswa tidak lengkap dalam mengisi jawaban dan ada juga siswa salah dalam menentukan lebar aquarium. Kesalahan siswa tersebut dapat dilihat dari jawaban siswa yang sudah dikoreksi seperti :
Jawaban Siswa                                                Jawaban Benar 
V = p x l x t                                                                 V = p x l x t
 31.080 = 74 x l x 42                                          31.080 = 74 x l x 42
31.080  = 3108 l                                                31.080  = 3108 l
         l   = 31.080 – 3108                                             l   =
             = 27972                                                            l    = 10 cm

   Dengan memperhatikan kedua tabel diatas dapat dilihat bahwa tingkatan pemahan siswa dalam pemecahan masalah meningkat. Meskipun pada ulangan harian II skor yang diperoleh siswa tidak meningkat dari ulangan harian I. Hal ini disebabkan materi pada siklus kedua lebih sulit dibandingkan materi siklus pertama. Menurunnya jumlah dan persentase siswa yang mencapai KKM pada ulangan harian II disebabkan juga oleh soal ulangan harian II lebih rumit dibandingkan soal ulangan harian I, soal pada ulangan harian II juga lebih banyak hitungan sehingga waktu yang digunakan tidak cukup untuk mengerjakannya hingga selesai.
4.2.3  Keberhasilan Tindakan
Untuk mengetahui peningkatan skor hasil belajar siswa kelas  SMP Negeri 4 Kuantan Hilir sebelum dan sesudah tindakan dapat dilihat pada tabel distribusi frekuensi berikut.
Tabel 4. Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Hasil Belajar Siswa Kelas  SMP Negeri 4 Kuantan Hilir
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa frekuensi siswa yang tidak mencapai KKM menurun pada ulangan harian I dan ulangan harian II dari skor dasar. Untuk frekuensi siswa yang mencapai KKM mengalami peningkatan pada ulangan harian I dan ulangan harian II dari skor dasar. Namun pada ulangan harian II siswa yang tidak mencapai KKM meningkat dan siswa yang mencapai KKM menurun dibandingkan ulangan harian I. Menurunnya jumlah siswa  yang mencapai KKM pada ulangan harian II disebabkan materi pada siklus kedua lebih sulit dibandingkan materi pada siklus pertama. Hal ini terlihat dari indikator yang harus dicapai pada silabus yang memerlukan tahap pemahaman/penalaran siswa dalam perhitungan, dan pada ulangan harian II soal nya juga lebih sulit. Pada ulangan harian II lebih banyak soal hitungan sehingga sebagian siswa tidak sempat mengerjakan soal dan salah dalam operasi hitung. Namun jumlah siswa yang mencapai KKM pada ulangan harian I dan II meningkat jika dibandingkan dengan skor dasar. Hal ini menunjukan adanya hasil belajar siswa yang semakin meningkat.
Gambar 4. Perbandingan Hasil Belajar siswa
Berdasarkan polygon frekuensi di atas, pada interval skor hasil belajar terendah terlihat bahwa frekuensi pada skor dasar lebih tinggi grafiknya dibandingkan dengan frekuensi skor ulangan harian I dan ulangan harian II. Artinya semakin sedikit jumlah siswa yang memiliki skor hasil belajar rendah setelah dilakukan tindakan. Pada interval skor hasil belajar tertinggi, terlihat bahwa untuk skor dasar grafiknya lebih rendah dibandingkan dengan frekuensi skor ulangan harian I dan ulangan harian II. Artinya semakin banyak jumlah siswa yang memiliki skor hasil belajar tinggi setelah dilakukan tindakan. Menurut Rezeki (2009:3) kriteria keberhasilan tindakan yaitu apabila jumlah siswa yang mendapat skor rendah menurun atau jumlah siswa yang mendapat skor tinggi meningkat setelah tindakan dilakukan maka tindakan dikatakan berhasil. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menggunakan meode belajar aktif tipe group to group exchange dapat meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan skor dasar. Sesuai yang dikemukakan Suyanto (1997) bahwa apabila skor hasil belajar siswa setelah tindakan lebih baik maka dapat dikatakan tindakan berhasil, jika tindakan berhasil maka hasil belajar siswa meningkat.
4.3. Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan pengamatan peneliti penerapan metode belajar aktif tipe group to group exchange sudah sesuai dengan peencanaan pembelajaran. Selama proses pembelajaran belangsung, aktivitas dan interaksi siswa dalam kelompok sangant baik, terlihat siswa lebih bersemangat dalam belajar dan lebih partisipatif dalam proses pembelajaran. Dalam mengikuti setiap aktifitas pembelajaran siswa sudah mulai berani mengeluarkan pendapatnya, bertanya pada teman dan guru dalam memahami materi pelajaran, mengerjakan LKS dan LTS sebagai sumber belajar, siswa juga kelihatan kreatif dan antusias dalam mengerjakan tugas yang diberikan.
Analisis tentang ulangan harian I dan ulangan harian II, nilai siswa meningkat dari skor dasar. Tetapi terjadi penurunan dari ulangan harian I ke ulangan harian II. Hal ini disebabkan materi pada siklus II lebih sulit dan soal pada ulangan harian II lebih banyak soal hitungan. Selain itu sebagian besar siswa juga kurang lengkap dalam menjawab soal, ada beberapa siswa yang bisa tetapi salah dalam penggunaan rumus dan banyaknya siswa yang kurang teliti dalam operasi hitung. Dari analisis tentang ketercapaian KKM terjadi peningkatan jumlah siswa yang mencapai KKM sesudah tindakan dari pada sebelum tindakan.
Selama proses penelitian banyak kendala diantaranya: pada pertemuan pertama siswa belum bisa duduk dalam kelompok dengan tertib, hal ini menyebabkan penggunaan waktu menjadi tidak efisien. Siswa bingung dengan metode pembelajaran yang diterapkan. Siswa juga belum terbiasa bekerja sama dalam kelompoknya sehingga masih banyak siswa yang ribut, dan berjalan kekelompok lain. Saat presentasi kelas, siswa masih gugup saat menyampaikan hasil diskusinya karena belum terbiasa. Saat mengerjakan LTS juga kurang terkontrol karena waktu pembelajaran hampir selesai. Guru selalu memotivasi siswa akan pentingnya kerja sama dalam kelompok. Pada pertemuan pertama sangat banyak kekurangan yang dialami, diantara waktu belum sesuai dengan perencanaan sebelumnya.
Selain itu pada pengisian lembar pengamatan juga terdapat kelemahan, pengamat dalam mengisi lembar pengamatan kurang sesuai dengan seharusnya. Pada lembar pengamatan pengamat hanya menuliskan setiap gambaran secara umum kegiatan pembelajaran. Pangamat hendaknya menuliskan setiap kekurangan yang dilakukan oleh guru sehingga kekurangan-kekurangan tersebut akan direfleksi dan diperbaiki pada siklus selanjutnya. Namun kenyataannya dalam pengisian lembar pengamatan masih banyak bersifat penilaian sehingga apa yang akan diperbaiki pada siklus selanjutnya kurang jelas. Hal ini disebabkan karena kurangnya penjelasan peneliti kepada pengamat tentang pengisian lembar pengamatan dan keterbatasan wawasan peneliti dengan lembar pengamatan.
Pada pelaksanaan ulangan harian I, beberapa siswa melakukan kesalahan dalam menjawab soal yang diberikan. Terutama pada soal no 3 dan 4. Soal tersebut memang agak rumit dibanding soal-soal yang lain yatiu dengan indikator soal menentukan unsur-unsur yang ada pada kubus dan balok. Tindakan peneliti untuk mengatasi hal tersebut adalah menjelaskan kembali tentang materi yang berhubungan dengan soal tersebut pada pertemuan selanjutnya. Pada ulangan harian II soal yang diberikan jumlahnya juga sama dengan ulangan harian I, namun siswa mengeluh kekurangan waktu dalam mengerjakannya. Siswa juga sebagian besar salah dalam operasi hitung pada soal tersebut. Kesalahan dalam operasi hitung disebabkan siswa kurang teliti dalam menjawab soal yang diberikan. Selain itu masih ada yang bingung dalam penggunaan rumus dan pemecahan masalah dengan menggunakan aturan teorema phytagoras.
Dari ulangan harian I ke ulangan harian II hasil belajar siswa memang mengalami penurunan. Hal ini disebabkan materi dan tingkat kesulitan soal pada  siklus kedua lebih sulit dibandingkan dengan siklus pertama. Aktifitas dan pemahaman siswa terhadap materi secara keseluruhan setelah dilaksanakannya penelitian ini semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari lembar pengamatan aktivitas siswa, siswa yang tidak berani bertanya jadi berani bertanya, yang tidak berani tampil jadi lebih berani. Namun pada ulangan harian II hasil belajar siswa menurun dari ulangan harian I. Untuk mengatasi hal ini, agar hasil belajar siswa meningkat pada ulangan harian II tersebut penelitian dilanjutkan pada siklus berikutnya. Bila metode belajar aktif tipe group to group exchange dilanjutkan diharapkan hasil belajar akan lebih meningkat. Untuk keberhasilan tindakan rata-rata skor hasil belajar matematika menunjukan peningkatan dari skor dasar. Hasil belajar matematika siswa sudah lebih baik dibanding hasil belajar pada materi pokok sebelumnya.





BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1  Kesimpulan
Berdasarkan penelitian dan hasil analisis data yang telah peneliti lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan metode belajar aktif tipe group to group exchange dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas SMP Negeri 4 Kuantan Hilir pada materi pokok kubus dan balok.
5.2 Saran
Melalui tulisan skripsi ini peneliti mengajukan beberapa saran yang berhubungan dengan penerapan metode belajar aktif tipe group to group exchange diantaranya adalah :
1.      Metode belajar aktif tipe group to group exchange agar dapat dijadikan salah satu alternative dari banyaknya metode pembelajaran matematika yang lain untuk diterapkan disekolah-sekolah sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
2.      Guru bidang studi sebaiknya lebih aktif menggunakan dan mencari strategi atau metode belajar yang lain agar dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siwa.
3.      Guru sebaiknya membiasakan siswa untuk mengembangkan pengetahuannya dan melatih siswa untuk berani tampil didepan kelas melalui metode belajar aktif tipe group to group exchange dan metode yang lain.
4.      Langkah-langkah pembelajaran dalam metode belajar aktif tipe group to group exchange ini harus lebih diperhatikan dan ditingkatkan oleh peneliti selanjutnya yang ingin menggunakan metode ini, sehingga pada penelitian selanjutnya tingkat kesulitan dapat ditingkatkan.
5.      Untuk peneliti selanjutnya yang ingin menggunakan metode belajar aktif tipe group to group exchange sebaiknya pada langkah persentase kelompok di depan kelas untuk pemilihan kelompok sebaiknya tidak dengan pengundian. Sebaiknya kelompok yang akan tampil di tunjuk secara bergantian karena jika dengan pengundian kelompok yang sudah terpilih mempunyai peluang kembali terpilih,sehingga akan timbul kemungkinan kelompok lain tidak terpilih.
6.      Pada penelitian ini hasil belajar siswa pada ulangan harian II menurun dari ulangan harian I. Untuk peneliti selanjutnya yang ingin menggunakan metode belajar aktif tipe Group to Group exchange ini jika hal ini terjadi lagi maka diharapkan penelitian dilanjutkan dengan siklus berikutnya.







DAFTAR PUSTAKA
Arikunto S, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara. Jakarta.

Arikunto S.1985. Prosedur Penelitian. Bina Aksara.  Jakarta.

Depdiknas. 2006. Panduan penyusunan KTSP Jenjang Pendidikan dasar
          Dan menengah. BSMP. Jakarta

Dimyati. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta

Djamarah.2002. Prestasi Belajar Dan Kompetensi Guru.Usaha Nasional.
         Surabaya.

Djamarah,dkk. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Asdi Mahastya. Jakarta.

Herlina Sari.2009. penerapan metode belajar aktif tipe group to group
        Exchange untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas
        VIII SMP N 21 Pekanbaru.(tidak diterbitkan).

Lie, A. 2002. Cooperative Learning.Grasindo. Jakarta

Melvin L. Silberman. 2006. Aktif learning 101 cara belajar siswa aktif .
        Nusa media. Bandung.

Undang-Undang system Pendidikan Nasional.2003.Media Abadi.
        Yogyakarta

Sardiman ,A.M. 2006. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Raja
        GrafindoPersada. Jakarta.

Slameto.2003. Belajar Dan Factor-Faktor Yang Mempengaruhinya.
         Rhineka Cipta, Jakarta.

Sudjana, N. 2000.Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar.Sinar Baru
        Algensindo. Bandung.

Rezeki.S. 2010.Peningkatan Kualitas Pembelajaran Guru
       Matematika Dengan Penelitian Tindakan Kelas.Makalah Pada
        Seminar Pendidikan Matematika sepropinsi Riau.

Wardani, I.GAK,dkk. 2002.Penelitian Tindakan Kelas.Universitas
        Terbuka.

Zaini, H,dkk.2007.Strategi Penbelajaran Aktif. Ctsd (Center For
        Teaching Staf Development).Yogyakarta.